Boneka Jubah Hitam itu Hasil Pendidikan

Suatu kali menghadiri teman wisuda, padanya seperti ada janji yang telah tunai ada harapan yang kian terbuka. Dan tawa pun mengisi ruangan yang biasanya dipakai untuk kuliah namun karena pada saat itu sedang ada acara wisudawan, sehingga yang berdiri di depan ruangan itu bukan dosen melainkan para wisudawan. Diantara pemakai jubah hitam itu ada salah seorang teman yang ikut dalam hegemoni ‘kemenangan’. Menang dari sks dan tunai studi S1.

Kebetulan karena terlambat menghadiri acara wisudawan tersebut, sebuah bangku kosong di paling belakang ruangan pun menjadi sisa tempat mendarat bokongku yang semakin tepos. Kuikuti setengah perjalanan kegiatan sampai ucapan lapas Alhamdullilah keluar dari hampir seluruh orang yang ada di ruangan itu, barangkali juga aku termasuk.

Sehabis kegiatan, acara pun dilanjutkan dengan menyantap hidangan yang telah disajikan secara presmanan. Entah tradisi atau barangkali bentuk rasa syukur karena telah berhasil menyelesaikan studi serjana, acara makan-makan acap kali selalu mewarnai hegemoni wisuda. Kebetulan para cacing lambung sudah bersuara, kakiku pun langsung menuju antrian untuk menyendoki makanan lezat yang sudah tersaji. Untuk makan hidangan itu pun perlu alur yang teratur, mulai dari mengambil piring, sendok, lalu mengambil makanan kemudian segelas grand serta sedotan yang berdiri miring di dalam sebuah gelas kaca. Setelah itu, kembali ke bangku tak sabar memakan hidangan yang sudah menggunung di atas piring.

Makanan pun habis dan yang tersisa adalah kulit pisang dan gelas grand yang telah kosong, sementara batang sedotan harus tabah karena jatuh di atas lantai ruangan. Kebiasaan yang kurang tepat sebenarnya. Tapi, separahnya aku membiarkan batang sedotan melayang dan mendarat di lantai, di depan tempatku duduk bahkan menjatuhkan kulit pisang dan gelas grand yang kosong ke lantai. Sepertinya yang duduk di depanku terlalu terbawa suasana sehingga dia lupa pada slogan, “buanglah samapah pada tempatnya”. Di luar itu, aku tetap harus mengakui bahwa yang duduk di depanku dan hampir semua orang termasuk aku pun tak luput dari tindakan kurang tepat, yaitu membuang sampah tidak pada tempatnya.

Proses oksidasi pun berlangsung dan sel-selku melakukan metabolisme. Dampaknya adalah keringat yang menetes ada panas yang timbul. Aku pun keluar ruangan untuk mencari kesejukan, dan kebetulan temanku yang wisuda pun turut keluar. Dan momentum wisuda ini pun kami tunaikan dengan berfoto ria bersama. Dan tidak ketinggalan pula, sebuah boneka kecil yang dibungkus tabung plastik, ikut menikmati blitz yang dipancarkan kamera digital buatan tahun 2010 itu.

Hitungan 1 sampai tiga senyum kami mengalir, namun hanya mimik boneka berjubah hitam itu yang tetap dingin, seperti ingin mengisyaratkan bahwa sarjana atau titel tidak lagi representatif, artinya tidak ada jaminan seseorang yang memiliki titel akan lebih beradab ketimbang yang tidak.

Bukan karena sensitif atau skeptik, barangkali kita pun sependapat.

Seorang temanku pernah memliki pengalaman dan punya gambaran empirik tentang ini. Dia adalah seorang mahasiswa yang sedang lagi menyusun skripsi. Pembimbingnya bukan sembarangan, seorang professor yang notabene seseorang yang dikategorikan hebat dalam tatanan masyarakat. Namun akan menjadi paradoks saat kuteruskan permasalahan yang dihadapi teman ini. Adalah ketidakmanusiawian yang diperoleh teman ini dari seorang yang telah mendapat titel paling tinggi di dunia pendidikan ini.

Suatu waktu, dia pernah datang ke kampus untuk bimbingan skripsi yang telah digarap setahun silam. Sudah janjian sebelumnya untuk bimbingan. Tetapi sejak pagi sampai senja hendak datang, si professor tak kunjung datang. Karena takut atau segan, si teman tidak berani untuk melakukan komunikasi dengan si dosen. Hingga pada akhirnya, menjelang sore, dia pun memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan professor tersebut. Sampai tut yang kelima, akhirnya nada berat keluar dari seorang pria yang dihubungi oleh teman ini. Setelah itu, wajah teman ini berubah menjadi kusam lantaran sang professor membatalkan janji untuk melakukan bimbingan hari itu dikarenakan ada sesuatu yang mesti dikerjakan beliau. Penantian pun pupus dan dia kembali pulang dengan lapang dada. Apa mau dikata, nasib seorang mahasiswa. Bukan kali itu saja. Peristiwa yang seperti ini sering kali dialami teman itu. barangkali ini juga pasti dirasakan ribuan mahasiswa yang ada di Nusantara ini.

Cukup menyedihkan memang harus membuang waktu untuk penantian yang tak pasti demi gelar sarjana.

Dan kita sampai pada hipotesa bahwa ternyat titel yang tinggi tidak menjamin seseorang itu semakin lebih peduli, lebih manusiawi/humanis, lebih dewasa ketimbang yang tidak berpendidikan. Mungkin, ini menjadi catatan bagi orang yang telah atau ingin atau lagi berproses mencari gelar. Apalagi sampai meng-klaim bahwa orang yang gelarnya tinggi lebih beradab ketimbang yang lebih rendah atau tidak bergelar sama sekali. Karena dari secuil peristiwa ini, bisa dikatakan bahwa pendidikan masih perlu melakukan rekonstruksi. Pendidikan yang seharusnya menghasilkan manusia yang lebih manusiawi ternyata belum bisa melakukannya. Sehingga dewasa ini gelar belum bisa dijadikan hal yang representatif untuk mengindikasikan bahwa seseorang itu lebih berperikemanusian.

Catatan ini sekedar pamphlet informasi yang tidak bermuatan menjatuhkan atau memojokkan seseorang/oknum/profesi tertentu. Ini lebih pada sebuah refleksi kita atau barangkali sebuah afirmasi penulis menghadapi masa depan.

Sepenggal cerita ini semoga bermanfaat untuk kita.

UOUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s