Kok ‘Telat’ ?

Yuk hitung-hitungan kasus
tentan
g  (sering) terlambat……..

      Berapa siswa yang sering terambat
masuk ke sekolah, sehingga harus dihukum di depan kelas?
         Berapa mahasiswa yang sering telat
sehingga tidak diperbolehkan mengikuti perkuliahan?
         Berapa banyak buruh dan karyawan
yang harus dipotong gajinya karena telat masuk kerja?
         Berapa banyak siswa yang ngeluh
dan ‘terlantar’ lantaran gurunya masuk terlambat ke ruang kelas?
         Berapa banya mahasiswa ‘galau’
karena dosen telat untuk membimbing mahasiswanya?
         Berapa anggota dewan datang telat
untuk mengikuti sidang-sidang dalam
rangka mewujudnyatakan aspirasi dan kepentingan rakyat (bukan semata-mata rakyat ‘kapitalis’)?
         Berapa pengusaha yang mesti gulung-tikar karena
sering ‘telat’?
         Berapa banyak pejabat negara yang
sering terlambat ngantor ketika sidak dilakukan?
         Berapa kali diri kita ‘telat’
(telat makan, minum, sampai telat buang hajat) sehingga harus mengalami
gangguan penyakit?
Semua keterlambatan
berhubungan dengan waktu.
Bumi tidak pernah telat
berotasi dan
berevolusi. Bumi selalu konsisten dan tabah menanggung nasib sebagai salah satu ciptaan yang
berputar-keliling di galaksi sampai berjuta-juta tahun, bahkan bermilayaran
tahun. Lantas mengapa manusia sering telat dalam hidupnya?
Sela
Dalam konteks ini,terlalu banyak alasan dari sebuah keterlambatan.
Padahal kita sudah banyak mencerna filosofih tentang waktu, mulia dari waktu itu tidak pernah kembali, waktu itu
jahat, waktu itu terus berjalan, waktu itu ibarat pedang, waktu itu tegas dan
cuek,
dan masih banyak lagi. Namun masih saja, ‘telat’ adalah penyakit
klasik yang sampai saat ini menjadi kesenjangan yang belum terselesaikan.
What the hell’s that?

Baca lebih lanjut

SPEKTRUM PARADOKS: POTRET DILEMATIK

 

Kalau aku berangkat ngajar di salah satu lembaga Bimbel di Kota ini, selalu saja aku melihat spektrum paradoks, sketsa polaritas yang menurut batinku teramat memuakkan. Melewati jalan Zainal Pagar alam setidaknya ada dua kali lampu lalu lintas dari dua pertigaan yang menghambat perjalanan roda-roda motor ini hingga sampai pada suatu gedung yang hiruk-pikuknya beradu dengan suasana udara AC. Baca lebih lanjut

PENDIDIKAN: HAK ATAU KEWAJIBAN?

Prof. DR. H.A.R. Tilaar pernah menyampaikan bahwa Pendidikan itu adalah Hak Asasi Manusia dan disisi lain adalah sebuah proses.

Memang sedikit aneh ketika seorang pelamar kerja menyampaikan jawaban sumringah ketika salah seorang HRD perusahaan ‘X’ menanyakannya sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan kriteria pelamar yang harus dilengkapi sebagai syarat administrasi. “Bagaimana mungkin Anda seorang tamatan SMA bisa diterima di perusahaan kami, sementara kami membutuhkan tenaga kerja minimal lulusan Sarjana (S1)?” Dengan lugas sang pelamar tersebut mengatakan: “Menurut saya Pendidikan itu adalah HAK (sambil mengernyit jida, mengingat kitab kecil UUD’45 yang baru dibeli dari loak), bukan syarat bukan pula kewajiban. Jadi, kalau mau salahkan saya, salahkanlah Negara ini karena tidak memberikan hak saya, karena saya sudah bosan menuntut hak saya dari turun ke jalan, sampai aksi jahit mulut, dan tetap saja hak saya tidak diberikan.” Merasa underestimate, HRD tersebut langsung menyuruh pelamar terebut keluar dan menyatakan bahwa dia tidak diterima di perusahaan tersebut. Sang pelamar pun keluar dengan senyum simpul, dan tetap menjadi manusia yang sudah dimanusiakan lingkungan walaupun secara pendidikan formal dia belum dehumanisasi. Baca lebih lanjut