Darah Muda Abadi

Urat otak pada putus
Memori tak setajam sayatan samurai lagi
Kandas di awing-awang
Musnah oleh aktivitas ngambang
Terkadang tak berarti oleh kenikmatan sesaat

Mencari-cari jati diri, berhenti di persimpangan jalan
Terpaku memandang, hanya mendengar suara angin menggerayangan

Sisik-sisik awan gelap hadir
Lentera-lentera sinar diri melirih
Bergetar bagai disambar petir
Setiap pangkal tulang igah perih

Letik gelitik percikan air panas mendidih
Mendarat di lapisan kulit sempit, rambut berhimpit
Telusuri deretan runtuh benteng jantung yang tak lagi utuh
Buka lebar liang, berdiri lantang
Keberanian terbentang, namun nurani melarang

Darah yang mengucur membentuk lautan kedamaian
Menjamin hikmat penuh arti, enggan membuat diam diri
Berjalan dengan pelita yang diberi
Mengarungi samudera darah, dengan nadi dihiasi ombak terbata

Saat indera tak lagi menjadi senjata, pasrahkan diri pada jiwa merana

BDL, 20 April 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s