KEMERDEKAAN BERSELIMUT PENJAJAHAN KARAKTER BANGSA

Genap di tahun ini Republik Indonesia berusia 66 tahun secara de joure dan de facto yang telah memproklamasikan diri kepada dunia bahwa Republik Indonesia adalah negara yang bebas dari penjajah. Proklamasi bukanlah klaim klise yang tanpa landasan. Lebih tepatnya bisa dikatakan bahwa secara resmi Republik Indonesia adalah negara merdeka. Tetapi realitas dewasa ini, masihlah sangat kontra dengan kemerdekaan yang telah dimiliki. Betapa tidak, bangsa ini masih dikerengkeng dengan pelbagai masalah layaknya bangsa yang belum merdeka. Setidaknya hal ini dialami semua masyarakat dari semua unsur baik secara langsung taupun tidak. Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajah yang kelihatan saja, tetapi lebih dari itu kemerdekaan seharusnya bebas dari penjajahan yang tidak terlihat secara kasat mata yaitu penjajahan karakter bangsa.

Seperti yang telah kita pahami bersama bahwa ada pondasi yang telah dibangun oleh pendahulu bangsa ini dalam memperkuat kesatuan bangsa.Ialah pilar – pilar kebangsaan yang merupakan pondasi dan seharusnya tetap dipertahankan untuk menjaga kesatuan Negara. Tetapi permasalahan mendasar timbul ketika pilar – pilar ini sudah mulai goyah sebagai pondasi bangsa. Adapun 4 pilar kebangsaan yang mulai dilupakan adalah Pancasila sebagai ideologi bangsa, UUD’45 sebagai aturan yang paling relevan untuk bangsa, NKRI sebagai bentuk bangsa Indonesia yang paling sesuai dengan ragam pulau – pulau seta di selimuti Bhineka tunggal Ika yang notabene secara filosofih sebagai pemersatu perbedaan SARA. 4 pondasi ini merupakan format ideal yang penting untuk selalu dijaga guna mempertahankan kesatuan bangsa.
Potret yang terjadi akhir – akhir ini dimana pilar – pilar kebangsaan sudah seperti digalakkan lagi. Ini bisa dilihat begitu banyaknya permasalahan yang terjadi di negara ini khususnya yang berhubungan dengan 4 pilar kebangsaan Indonesia. Semangat pluralisme dan kebangsaan negara Indonesia seolah – olah dikoyak oleh kelompok – kelompok sektarian yang tidak bertanggungjawab. Belum lagi permasalahan klasik yaitu tindak korupsi yang masih sangat merajalela di semua lini masyarakat. Tentunya sudah barang tentu bahwa kemerdekaan yang kita enyam sekarang masihlah bersifat semu.

Pada rangka 66 tahun proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, sebagai bagian dari warga negara Indonesia yang turut serta memperjuangkan kemerdekaan ini secara tegas menyatakan bahwa kemerdekaan itu belum kami nikmati.
Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan negara Indonesia yang merdeka secara bermartabat maka seharusnya tidak ada lagi dikotomi dengan sekat – sekat yang mereduksi kebesaran bangsa, serta mari bersama – sama meningkatkan kesadaran nasionalisme terhadap bangsa. Dan secara serentak di seluruh indonesia kami menuntut keadilan tersebut demi kemerdekaan untuk semua.

Dengan demikian berdasarkan pemikiran dan fakta – fakta yang terjadi, maka Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia cabang Bandarlampung menyerukan :

Pertama : Mempertahankan Keutuhan dan Kesatuan Bangsa Indonesia dengan mengacu pada 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD’45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika) yang masih sangat relevan sebagai filosofih bangsa.
Kedua : Negara benar – benar menjamin kemerdekaan, pluralisme dan kebebasan umat beragama sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 dengan ,
a. Pemerintah Pusat harus bertindak tegas terhadap pemerintah-pemerintah daerah yang tidak mampu atau tidak mau menjaga pluralisme dan menjamin kebebasan umat beragama dalam menjalankan peribadatan agamanya.
b. Pihak kepolisian harus mengusut tuntas pelaku dan aktor intelektual kasus pembakaran 3 gereja di Kabupaten Kuansing, Propinsi Riau secepatnya.
c. Pemerintah pusat harus menggunakan kekuasaannya dalam mengatur urusan agama agar Walikota Bogor tidak menghalangi umat GKI Taman Yasmin beribadah di gerejanya.
Ketiga : Negara benar – benar memberikan jaminan konkret untuk memberantas kasus korupsi yang saat ini melibatkan sejumlah oknum dari partai penguasa, dengan :
a. Polisi dan KPK serta lembaga penegak hukum lainnya mengusut tuntas kasus korupsi tersebut dengan transparan kepada publik dan memenuhi rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia dan menindak tegas koruptor penghisap bangsa setidaknya seperti kasus Nazaruddin, kasus century dan kasus – kasus korupsi lainnya yang sepertinya tidak dperhatikan secara serius sebagai permasalahan bangsa.
b. Tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk mengintervensi lembaga penegak hukum dan lembaga yudikatif dalam pengusutan kasus tersebut.

Dan segenap civitas GMKI cabang Bandarlampug mengucapkan, DIRGAHAYU BANGSA KITA, BANGSA INDONESIA YANG KE – 66 TAHUN. JAYALAH NEGERI – KU !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s