BOCAH ITU AKU

Di persimpangan jalan sempit dan sesak
penuh aroma tak sedap dari pembakaran tak sempurna
kendaraan beradu antar roda

Di bilik kota
Tepatnya di persimpangan jalan itu
dengan jalan penuh lubang
menjadi alat kampanye setiap insan munafik
terpampang jelas wajah bocah kurus
sembari getar bibir dan ngangap mulut
menanti sapaan hangat
berharap peroleh mimpi di garis takdir, pun sering luput

Bocah itu mengulurkan tangan
padahal jari jemarinya rindu tuliskan surat pada ibu
Mulut capai beradu dengan hembusan angin yang harusnya bercengkrama
bentuk realisasi isi pemikiran mengisi ruang-ruang otak

Bocah itu bukan orang lemah
bukan orang bodoh
bukan pula orang gila

tertindas oleh kaum kapitalis
sadis, sering terlihat manis
Namun penjajah penuh bengis

Bocah itu
Bocah harapan bangsa
Bukan tempat pengeksploitasi
Kepentingan semata
Isi perut terkadang tak terisi,
apalagi untuk mengisi ruang-ruang otak

Di persimpangan jalan itu
Menjadi benteng pertahanan hidup dan harapan
“mengapa bocah itu tak pernah genggam pensil, sementara kaum bengis dan sadis pegang erat tumpukan pena ditangannya?”

Bocah itu ingin hantarkan pesan pada angin dan tanah,
Terucap :” aku ingin buat ibu tersenyum, rindu belaiannya dikala mimpi menyambut tidur”

Takkan tau isi buku, huruf saja belum mengenal
tiada sempat sampaikan surat pada ibu, pensil saja tak jadi di genggaman

walau takdir urung menjaga,
tetapi alam akan selalu hadirkan senyum, penawar lipu , tempat bersimpuh lara
karena bocah itu, aku

Tanjungkarang, 25 Mei 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s