Aulia Kurnia V

Free Automatic Backlink

berkas cahaya bujur di pagi hari
tantang rumah-rumah panggung pinggiran kota ini
pantulan menghunus celah papan walau kecil
masuk, tak bisa terbendung
berujung di dasar rampung
urung lepas kampung
untung dan rugi penuh junjung
ikhlas hasil nelayan kadang tersandung
hambat pundi pun masih terkurung

bayangan sejajar sinar, tetap teguh oleh gemuruh angin
dan borneo tak kunjung ketemu
penantian lama yang ku tunggu
penghujung waktu di kota lintang baku

ada jembatan penghubung daratan
di sungai terpanjang pulau idaman
-gaung kapal, getar telinga
dan asap-asap keruh terlihat separuh
kukuh langit tetap biru-

bubungan kapal terikat temali
menarik poton seperti tongkang, dari besi dan baja
kanan-kiri, rapi susunan ban-ban kecil menggantung
bak tonjolan kutil mengapung di permukaan kulit

wadah besar tepat melekat, kumpul pasir kapur
dihantarkan aliran sungai beralur
lekuk-lekik liar air hempas eceng gondok hingga gugur
oleh perjalanan poton yang jadinya berbaur
dengan suara kapal penarik yang jujur

“sepoian angin, hilir mudik kapal,serta kepak burung elang seperti lambaian layang-layang, mengisi hiruk pikuk suasana. Langit yang mulanya biru tetap membiru, dan cahaya matahari tetap menguning. Namun, air deruh mulai mengeruh”

Pinggiran anak Kapuas, penghujung Juli 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s