Sajak kaum marginal

Free Automatic Backlink

bangun tidur, mata masih memerah
badan enggan beranjak dari dipan jati berkaki empat
seprai dan selimut timpa menimpa
saling rebut posisi hingga kusut di sudut impian kabut
ikut dalam geliat mimpiku
serta bantal yang semula menjadi alas kepala
tak ragu menjadi alas kedua kaki

teguk bening segelas air
mengalir melewati sisi lapis epidermis tenggorokkan
nikmat rasanya
ya
Air dari sungai yang bersih dan jernih ; katamu

lalu kubuka hitam tirai katun
berharap rasakan pagi cerah
tetapi, tajam bola mata
hentak rontah di hati mengalir ke pikiran
“mengapa bunga bakung tak lagi tumbuh di halaman”

Gerak kaki lalu hampiri ruang tamu
Duduk santai sembari dengarkan irama dentangan jam
Yang tak lebih kuat, dari suara televisi buatan orang barat

Luap air
kikisan tanah
hamburan karbondioksida
menjajah kembali, menjadi biasa di indera-inderaku

Saat peraturan tak lagi bicara
Izinkan alam berkata

Bukan pintaku, tapi izinmu
Bukan harapan, tapi musibah
Bukan kita, tapi alam

bumi ini bulat seperti jeruk purut tak bersudut
namun melingkar; katamu lagi

Dan saat terbangun nanti, jangan salahkan bumi tak berbentuk

Tanjungkarang, Juni – Juli 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s