TIANG TANPA BENDERA

Free Automatic Backlink

Ada tiang tanpa bendera berdiri kokoh
Menantang terik matahari
Yang bayangnya pun seolah ingin meninggalkannya
Lantaran hampir tak terlihat lagi

“mengapa ada tiang tanpa bendera”
merah yang dulu melambangkan semangat perjuangan kini warnanya telah pudar
putih menggambarkan suci pikir dan tulus hati kini bernoda
“apakah ada tiang tanpa bendera”

Saat upacara tujuh belasan, pernah kita berdiri menghadap tiang yang di ujungnya melambai gagah sang merah putih
Sembari tangan kanan serta jemari merapat, kita letakkan di daerah pelipis mata
Betapa anggunya dia, ditambah iringan alunan Indonesia Raya merindingkan bulu-bulu roma
Namun kini,”mengapa ada tiang tanpa bendera”

pernah sesekali orang tua bercerita, tentang kobaran semangat Bung Karno
Bung Tomo, Bung Hatta
Yang tetesan keringat mengucur hampir tiada berasa lagi
Dan kucuran darah pun menjadi biasa dipandang oleh mata sang pejuang

Merah darahku
Putih tulangku
Adalah kalimat mutiara,bukan penghancur bangsa

Lalu,”mengapa ada tiang tanpa bendera”

Kekuasaan bukan lagi amanah
Otoriter menjadi alat penindasan
Perjuangan bukan melawan penjajah
Namun penghancur saudara

-Tiada lagi lidah pembelah bangsa
Namun pemicu dilema
Uraian huruf dari kata ;Merdeka
Gugur di musim matahari bujur-

Proklamasi bukan akhir penderitaan, tapi tanda perjuangan

(untuk waktu yang tak pernah berhenti; jauhlah pudar dari merah
Untuk angin pembawa debu; agar berhembus takkan hampiri putih)

Bandarlampung,16 Agustus 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s