fenomena nazar

Free Automatic Backlink

salam hangat untuk kita semua!
Pagi ini pagi yang indah tanpa curiga, dengkih dan diselumiti rasa percaya, gelak tawa serta riak riang. Bukan karena pohon harta dimana – mana, tetapi barangkali ada damai nan indah di hati dan kasih pada dendang yang harmoni.
Jika kita menghidupkan televisi kapan saja, pastilah dengung dan dentam nama Nazarudin selalu terbesik di telinga kita. Apalagi ada stasiun Televisi yang ‘sok menjadi superhero’ dengan concern menyajikan berita – berita baik ter-update maupun exclusive secara intens. Mungkin memang begitulah pekerjaan media barangkali. Harapannya memang seperti itu, tanpa ada kepentingan lebih dari pemantauan dan peliputan intens atas kasus si Nazar.
Kita pernah mendengar perkataan orang bijak bahwa sesuatu tidak ada yang Abadi. Artinya ada hal – hal yang disajikan secara terus menerus, semuanya akan hilan bersama waktu. Kita tidak tahu sampai kapan media akan ‘berkoar’ tentang kasus Si Nazar atau sampai kapan kasus ini bisa selesai se-ideal mungkin, atau malah kasus Si Nazar ditutup dengan dispensasi yang subjektif dan semuanya seperti tidak terjadi apa – apa. Sebenarnya ini bukan tidak mungkin menjadi pilihan utama, karena tidak ada kejelasan sama sekali dan titik terang dari kasus ini. Gimana kita bisa tidak berkata kasus ini masih bias, KPK dan pihak keamanan negara ini saja merupakan orang – orang yang seperti ‘animalia’. Karena pemerintaha adalah panggung sandiwara, dan elit pemerontahan adalah aktornya. Di balik skenario tentu ada sutradara, dan di pemerintahan juga ada sutradara.

jika kita menelisik kembali alur penangkapan si Nazar, wajar jika kita menanyakan ketidakwajaran penangkapannya dari Bogota sampai di Jakarta. Mulai dari waktu/range perjalanannya sampai transparansi tindak landuk di kapal serta isu biaya yang sangat besar untuk menyewa pesawat gunan penangakapan si Nazar kepada amerika, walaupun menurut saya ini sangat fiktif. Duit bermilyaran yang dikelurakan sebenarnya tidak ada malah justru masuk di kantung orang – orang penjilat. Justru amerika sebagai pendukung fenomena laknat ini membantu banyak Interpol dan Intel kita, untuk bisa tetap menjaga kondisi Indonesia yang masih stabil versi amerika. Asumsi ini bisa kita komparasikan seperti kejadian G 30 S/PKI dimana amerika sangat membantu kepolisian dan TNI kita untuk menumpas ‘Indonesia’ sebenarnya. Jadi bukan tidak mungkin, Amerika sebenarnya membantu semua akomodasi dan mendukung skenario ini.

Kemudian ada hal yang paradoks dari seorang Nazar. Ketika di Bogota, Nazar ini seperti ‘ibu – ibu’ yang sedang berantam. Mulutnya seperti mau koyak karena sangking lebarnya memeberitahu tentang kebusukkan tokoh- tokoh elit. Bahkan seperti badut di sirkus, wajahnya sangat ekspresif. Tetapi ketika sampai di negara sendiri kok malah ‘melempem’. Mulut yang ‘jabir’ tidak ada lagi, dan wajah yang ekspresif penuh semangat sudah hilang. Mungkin organ – organnya sadar bahwa walau berada di negara sendiri, sudah tidak nyaman lagi karena realitanya Negara ini masih dijajah.

Sepertinya dalam skenario, ini masih tahap Sinopsis saja. Sedangkan konfliknya masih baru dimulai. Si Nazar bukan pemain utama, karena pemain utamanya belum dipertontonkan. Si Nazar hanya ‘kutu kupret’ dan ‘robot’ made in Indonesia sehingga kelihatan dia sudah mau rusak.
Walaupun kita saksikan, si nazar sebenarnya masih punya otak karena di belum tergilas dengan truk di jalan lintas, dan keluar dari kepalanya.
Ada dua kemungkinan mengapa si nazar menciptakan paradoks,
1. Ketika proses penagkapan siNazar mulai di dalam pesawa sampai di tangani oleh pihka kepolisian, Nazar mendapat berrtubi – tubi intervensi. Sehingga secara psikis, Nazar merasa tertekan. Ini barangkali dilakukan demi menjaga kepentingan oknum tertentu agar masih pada posisi safety.
Karena ketika nazar berkoar di media internet tentang ‘aib’, maka yang berada di lingkaran ‘aib’ itu mulai mengatur langkah dalam membungkam mulut ‘jabir’ tadi.
Saya melihat posisi demokrat disini berada pada posisi taruhan besar. Artinya dalam kasus zaruddin ini, demokrat memiliki peluang besar untuk naik bahkan terbang menjadi parpol yang top namun bisa jadi demokrat hancur lebur hingga puing – puing. Jika demokrat menciptakan paradigma bahwa demokrat menjadi bahan ‘penzoliman’ dan korban, bukan tidak mungkin demokrat akan kebanjiran simpatik rakyat dan kita akan bersama – sama mengucapkan SELAMAT KPD. SI ANAS, karena kursi regenarasi demokrati di bangku empuk presiden akan berhasil. Karena untuk mengangkat popularitas si Anas hanya dengan spekulatif dan hal – hal yang ekstri, karena dari ketokohan, si Anas masih belum bisa mengalahkan si SBY. Namun dengan manajemen konflik seperti ini, bisa saja 2014, Anas menjadi orang nomor 1 di RI.

2. Kasus nazar merupakan kasus mencari kepopuleran. Ini dimanfaatkan oleh banyak oknum. Namun adakah yang berperan dan memanfaatkan kasus si Nazar tetapi tidak ingin mendapat eksistensi. Tentu ada. latar belakang si Nazar ternyata sedikit banyak menjadi isu kuat dalam menggoyang demokrat. Testimoni si Nazar yang banyak membuka ‘aib’ tokoh – tokoh khususnya tokoh elit di demikrat, disinyalir merupakan settingan seseorang yang barangkali tidak ingin eksistensi tetapi dengan ekstra bekerja di balik layar. Latar belakang, karena pada dasarnya si Nazar merupakan kader H_I, yang notabene merupakan organisasi yang di dalamnya ada seorang kreator handal di dunia perpolitikan yaitu AT. Saya melihat bahwa, si nazar merupakan media launcher atapun bahasa kerennya spionase di demokrat untuk meluluhlantahkan bangunan megah yang bernama demokrat. Ketidakbisaan SBY untuk melajutkan tampuk kekuasaannya di kur si presiden membuat segalanya mungkin unutk dilakukan demi kepentigan 2014. Oleh karena itu menurut saya, nazar merupakan media yang pas untuk menghancurkan demokrat. tentunga AB di pihak parpol lain ingin partainya mengangkat ke permukaan dan skenario pun ditata sedemikian rupa.
Kesimpulannya adalah, Si Nazar yang memiliki hubugan dengan AB karena berlatar belakang sama, sebelum masuk partai, dijadikan media penghancur demokrat untuk mengangkat partai tertentu ke permukaan.

Sekulimut permasalahan yang ada di negara ini, memang begitu kompleks. Kasus korupsi mulai dari skala keci hingga besar terjadi di semua tataran. Mulai dari kelas teri hingga kelas kakap ataupun kelas hiu. Barangkali korupsi memang sudah menajdi tradisi dan budaya. Sehingga kadang sering terbesik di niangan kita, mengapa tradisi dan budaya asli bangsa kita tidak dirawat dan dilestarikan, sedangkan budaya korupsi sepertinya sudah menjadi paten di negara ini.

Barangkali ini adalah keluh dan pilu seorang masyarakat yang ingin melihat bangsa ini benar – benar merdeka. Semoga permasalahan bangsa khususnya kasus Si Nazar ‘durhaka pada bangsa’ segera selesai dan KPK serta pihak kepolisian tidak memakai topeng kebiadapan tetapi ada selimut cahaya pada mereka.

23 Agustus 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s