Pamflet rainbows

“Kusampaikan pamphlet ini padamu,wahai putri kencana bulan
berasuh colonial, keturunan balai buntar, daerah sejarah bengkulu
Tampak purnama mulai merekah malam ini
bagai serigala semang piatu menantang gelap di tengah dingin salju
namun semuanya pudar saat pangeran kimas muda wafat, pujaan yang dinanti
ditujah moekerdji berdarah hindi
dan semuanya berakhir di gua nan jauh”

Engkau titipkan pesan ini
ketika deretan naskah menjadi asing didengar
walau tinta yang dituliskan dari tangan pembawa perubahan
deretan lainnya menjadi menarik, membahana dalam daging
alur-alur cerita tertuang dalam lakon
penuh para penonton
mahakarya sang terkemuka montecarlo

lalu, detik proklamasi menjemput
dan engkau tiada lagi disana
hanya pekat kopiah hitam kau tinggalkan
menanti cerita pendek kemerdekaan kita, dulunya

kekaguman tak pernah berhenti
untuk seniman sejati
selalu ada di hati
disaksi oleh segala yang suci

di barisan depan, kau menjadi orator terkini
penuh juang lupakan harga diri
jalan yang engkau tapaki, lembah pernah dijajaki dan selat – selat kau arungi
takkan pernah terhapus hingga pagi

sejak ajal tak lagi dikandung badan
perlahan awan hitam pun hampiri tanah leluhur yang pernah engkau tapaki dulu
belum ada kutemukan jejak seperti telapak kakimu
dan sejauh kedua kakimu berjalan

sampai kapan kertas yang engkau bacakan dulu akan terdengar, di telingaku?
Melihat bocah-bocah jalanan memakai seragam sekolah dengan bola mataku?
Menghirup udara segar saat terbangun, mentari menyambut pagi?
Sekarang, indera-indera hanya menjadi pelengkap tubuh

Ideologi yang dibuat bagai kapas putih
Disulam oleh penjahit dengan jarum dan peniti
Menjadi kemeja indah, dipakai orang-orang ternama
Di negeri penuh penjajah lagi

Pupus gelak tawa
lantaran sesak di dada, akibat suara
enggan terlontar dari mulut rakyat jelata

Mungkin akan sampai pada suatu saat nanti
Ketika awan tak biru lagi dan kapas tak pernah memutih
Karena kaki seperti kaki engkau, belum kutemukan di jalan ini
Wahai pemimpin berhati peniti

10 September 2010

;Dilhami dari mitologi daerah Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s