Angka 82

Free Automatic Backlink

Saat kau duduk di bangku kayu kelas 6 SD
diselimuti ruangan persegi, berjendela papan tipis
menjadi tempat tangan kanan akrab dengan pensil dan penghapus
ada juga lembaran buku tersusun antara garis dan kolom
bagai gula dan teh yang jadinya satu dibalut air hangat
menghantar laju kakimu kesekolah
:tempat deretan angka-angka diolah
diatas meja tua

Seketika, dia mengayunkan kumpulan butir-butir putih
berbentuk silinder yang mengeras
tertancap di triplek hitam bergantung di depan kelas
jemarinya melenggok hingga merapat
seakan ingin mengisyaratkan urat-urat terlipat
lantaran letih yang didapat

Lalu, goresan pensilmu mengisi lembaran itu
perlahan, petak demi petak penuh oleh angka
satu sampai sembilan
mungkin hanya itu yang ada

Serentak penuh gerak badan di meja yang mulai retak
karena angka 82 dengan sayatan pena dia, terukir di ujung deretan angka-angka
bukan lantaran tak pernah tertuang dalam lembar-lembar sebelumnya
namun, asing untuk digoreskan
mengapa tidak 80 atau 90 barangkali
ataupun 85
seolah 82 melambangkan padu, yang sering diasebut bilangan

Mulai termangu dan berduram nurja
gerbang sekolah berlapis baja
bertanya pada dia :
“apakah 82 menjadi akhir segalanya atau tanda kebangkitan raga?”

Tanjungkarang, 5 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s