DI BAWAH SISA HUJAN

Di bawah sisa hujan
Kala senja melanda
Ada lelaki berkumis kerimis
Nafas bau penuh amis
Mengayuh pedal sepeda dilapis pernis

Turun naik kaki perlahan
Agar sampai ke halaman
Di sana lahan-lahan penuh dengan taman

Ada juga anak kecil mengcengkram pinggang bapak itu
Duduk di bangku belakang sepeda
Sembari kepala menengadah kekiri kanan jalan
Hingga tutur kata terucap dari bibir polos;
“mengapa tiada pernah temukan matari
hanya suara angin dan gemercik gerimis
yang menusuk gendang telinga”

Putaran demi putaran jari-jari roda
menghantarkan laju sepeda sampai di taman

Dengan langkah tertatih
anak kecil itu turun sendiri
bertumpuh pada tongkat jati
menggoreskan jejak kaki di tempat penuh arti

Tiada warna yang hinggap dalam hati
hanyahitammengelilingitangislirih

Totolan tongkat menghunus tanah
menjadi pelita malam
saat kelam tak bisa di tolak
laiknya kicauan-kicauan burung bebas di awan
tawa canda pun mengisi ruang dalam taman
Namun, gerimis yang larut
tak sanggup menyemangi raut wajah kusut

Kadang, sesekali ia terjatuh, sebab kaku batu
menyentuh sepatu dari kulit kayu
Teguk tangis pun tiada bias terbendung
oleh bulu-bulu lentik matanya

tiba-tiba, terdengar teriakan awan hitam membahana di langit sana
saling menyusul dengan cucuran hujan yang kian menderas
bersama garis kilau cahaya

saat badannya taksanggup beranjak
dan bibir mulai bergetar,
mengalir sisa-sisa suara
dideruh hembusan angin
“dimana engkau bapak?”

Bandarlampung, 13 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s