Bintang 5

Seperti hotel bintang 5
bangunan megah dengan ratusan sekat mewah
Ubin-ubin kilap licin memantulkan pijar lampu
agak dingin sebab hawa AC menyelimuti para penjajal itu
Tak ada bekas telapak sepatu saat mereka lalu lalang
Dasi bermotif garis – garis serasi dengan kemeja lengan panjang tak berlekuk
ditambah wewangian dari parfum import
Adalah sketsa surga manusia
Tak ada tubuh lunglai dan raut wajah nan kusut
lantaran perut belum terisi, atau kerut dahi
karena halaman di kebiri oleh para elit pecicil
;menggunting kertas-kertas harapan
Bagai debu hingga tiada bentuk lagi

lalu, ada bintang 5 di katun-katun orang timur negeri ini.
Katun segipanjang dibelah garis diagonal memisahkan hitam dan merah.
Lambang laiknya cendrawasih melekat di merah katun.
Dan bintang 5 yang engkau sebut kejora, lengket di hitamnya.
Seketika angin berhembus, kibarlah katun segipanjang meliuk-liuk di halaman itu.
Kain sakral bukan pembalut kemaluan atau penutup tonjolan di dada.
Namun simbol semangat baru di akhir pendar cahaya
Kini, kain diikat di ujung tiang, dalam sebuah ruangan bersekat baja.
Tidak ada senandung kebangsaan dan hening sesaat seperti upacara tujuhbelasan.
Nyanyian bersama dulu

sebuah kisah penderitaan kaum terjajah di tanah kelahiran.

Bandarlampung, 02 Maret 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s