Petak umpet

Dahulu, bersandar pada setebal tembok rumah
Kupejamkan mata, bukan mata hati
Namun yang kau sebut salah satu indera
Beralaskan sisi telapak tangan belum berbulu hitam
Dan iga yang masih setengah mengeras
Sembari menghitung angka satu sampai sepuluh
Seperti yang diajarkan guru ketika duduk di bangku kayu

Sudah bibir berliur lantaran selesai menghitung
Lalu kupalingkan badan mencari jejak langkah mereka sembunyi
aroma tubuh sudah menjadi ingatan bau
dan kulihat mereka di balik pagar bambu
seperti tidak menau
aku pergi tanpa ragu
meninggalkan juru jaga petak umpet

kemana harus pergi saat
ku sematkan lugu pada mereka

Seperti main petak umpet
sembunyi pada derai – derai malu
lantaran menyemat dusta dan dosa

menilik tepi cakrawala dan kaki – kaki bintang
jua semburat fajar dan pendar mentari
pun sungkan hadir dari paginya
karena sudah berapa banyak hari mereka yang dirampas
tawa yang terusik
dan hilang asa hidup

tiba saatnya zikir mereka akan meneggelamkanmu
bagai tikus dalam jerami padi

Bandarlampung, hulu Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s