Sajak kepada perantau

Kembali degap hati dalam simponi lirih
termenung tanpa arti raut wajah
hitam pupil mengecil
pipih pelipis tiada berkerut
kelopak menahan deru laju air mata
yang hampir meluap di lesung pipi

kala itu, sekucur air dari jubah biru dunia
hanya membasai gerai – gerai teras dan halaman
serta atap jerami
tak sanggup memutihkan kerak dalam tempayan
sisa makan malam
ketika petang datang, matang di tungku
asap dan abu mengalahkan api dan kayu

bundar bibirnya menyematkan petisi – petisi hidup
karna esok ada lambaian tangan kepada pintu gubuk
menyusur tanah rantau dengan hasrat galau

rintik pun jatuh, jejak hujan menetes pada kendi tua
sedari semalam sudah penuh
lalu kau basuh wajah yang masih penuh dengan sisa mimpi
ibu para bintang muncul sebagai saksi
asa baru hari ini

kini, terngiang pesan halaman dalam taman
arti perih hidup yang menyambangi tiap langkah kaki
bagai sebatang korek dalam peti
dan kita mesti berpikir sendiri
mau kemana hari ini

tiada lagi beras dalam tempayan atau air dalam kendi
melepas tirai masa lalu
menantang sakal baru

Bandarlampung, 26 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s