Sekilas review dari “Menanam Benih Kata”

Sekilas review dari “Menanam Benih Kata”

Ilmu yang didapat dari buku “Menanam Benih Kata”

karya : Ari Pahala Hutabarat

Sontak saya ditawarin buku oleh salah satu senior di KSS (Kelompok Studi Seni) FKIP Unila. Kuterawang, menjamah hingga membuka lembaran – lembarannya yang kasar. Kuamati lembar paling luar yang lebih tebal dari lembar – lembar lainnya. Ada ukiran aharoni putih: Ari Pahala Hutabarat, salah satu sastrawan Lampung yang cukup memiliki bergain yang tinggi dalam dunia seni Lampung. Pempangan tulisan ini semakin memancing mulutku untuk mengatakan bahwa aku tertarik kepada buku itu. Setelah itu aku terima tawaran dari senior tersebut dan aku pun membeli buku tersebut. Setelah itu aku baca.

Buku yang selesai kubaca tanggal 31 Oktober 2011 ini sangat menarik untuk disimak. Beberapa alasannya adalah :

– Bahasanya cukup ringan dan mudah untuk dimengerti

– Walaupun menggunakan bahasa – bahasa puitik tetapi dia koheren dan maknanya tidak bias

– Dalam penulisan menggunakan font yang tidak membosankan

– Menyampaikan wawasan tentang sastra tanpa disadari pembaca bahwa buku tersebut sedang mentransfer wawasan

– Para pembaca ikut bersama kronologi yang terjadi dalam buku tersebut

– Kutipan – kutipan yang ada di dalam buku sangat relevan dengan sajian yang ada dalam buku

Terlepas dari kelebihan buku ini, ada juga kekurangan menurut kacamata saya :

– Terlalu ringkas dan cerita yang disampaikan masih tanggung

– Tidak ada rujukan/referensi lain sebagai nomenklatur

– Status buku masih ambigu : fiksi, non-fiksi atau semi-fiksi

– Letak kutipan yang tidak teratur, kadang kutipan setelah tiga lembar, terkadang setelah empat lebar malah terkadang setelah 1 lembar.

– Buku yang saya beli salah cetak di beberapa halaman dan susunan sekitar 10 halam tidak berurutan menyebabkan harus bolak – balik buku ini.

– Peluncuran buku ini cenderung buru – buru padahal jika dimatangkan sedikit lagi, buku ini pasti lebih menarik

Setelah membaca buku ini setidaknya ada wawasan yang di dapat tentang dunia sastra khususnya dalam penulisan sastra puisi. Khususnya untuk kalangan pemula yang ingin menulis puisi. Dalam cerita ini alurnya disampaikan bagaimana sekelompok bujang ingin belajar menulis puisi mulai dari ‘titik nol’, tangga paling dasar. Secara kronologitif, pengarang menghantarkan para pembaca dan menyambut untuk masuk bersama – sama berpetualang dalam cerita. Sehingga para pembaca ikut bersama dengan petualangan para bujang di dalam cerita untuk memahami dan belajar tentang sastra puisi.

Tetapi masih tersimpan banyak tanda tanya dalam buku ini. Mulai dari sosok mbah bob yang keriput, tetapi iganya masih kekar, kemudian status mbah bob yang sudah menikah atau belum, karena di dalam cerita dia tidak memiliki anak dan lainnya.

Namun terlepas daripada itu, saya sendiri selaku pembaca awam dan ingin belajar menulis puisi, saya merasa mendapat khasanah baru yang membongkar gudan otak dan menarik urat – urat kepala yang sedang menguap lesuh.

Adapun pointer yang saya anggap penting adalah :

– Puisi memiliki 2 Unsur yang pertama unsur dalam dan kedua unsur luar.

– Unsur dalam : Tujuan/amanat, nada/tune, rasa/feeling, Subject matter, tema

– Unsur luar : Diksi/kata, imaji/citraan, majas, ritme/irama

– Kemudian ini masih dibagi lagi dalam sekup yang lebih sederhana lagi :

– Dalam diksi/kata harus bersifat selektif, artinya pemilihan kata pada puisi harus mengalami filterisasi yang tinggi sehingga memang kata itu layak menjadi diksi dalam puisi. Kemudian yang kedua adalah diksi bersifat konotatif, artinya setiap diksi yang ada di dalam puisi memiliki makna tersirat atau bukan sejadi – jadinya bahwa diksi yang ditulis merupakan makna sejati. Cth : jika ingin menuliskan makna sakit hati, dalam puisi dapat ditulis dengan diksi mawar yang gugur, atau mawar yang sudah rapuh. Sehingga para pembaca tidak langsung menginterpretasikan makna sejatinya. Dan ini akan menentukan penjamakan interpretasi sebuah puisi, sehingga semakin banyak interpretasi maka semakin baiklah puisi tersebut : kata para sastrawan.

– Kemudian bagian unsur dalam lainnya ada imaji/pencitraan. Imaji kunci dasarnya adalah indera. Untuk mencitrakan puisi, penulis bisa memiloh diksi yang nantinya para pembaca bisa mencitrakan dengan indera para pembaca. Cth : kerumunan lalat berpose di atas seonggok bangkai (indera penciuman). Tentunya kita bisa menentukan pencitraan dengan indera penciuman dan bisa kita katakan bahwa puisi tersebut sedang menjelaskan bau/aroma. Kemampuan indera – indera kita selain penciuman ada pendengaran (Cth : pabrik – pabrik berlari – lari di atas rumah kami dan deru mesin mengusir pagar – pagar bambu), penglihatan, merasakan, menyentuh.

– Disamping menggunakan kemampuan indera, imaji juga bisa didukung melalui pintu/jendela sajak. Artinya di dalam sebuah puisi dengan membaca beberapa diksi utama, maka pusi tersebut bisa dicitrakan.

– Kemudian yang terakhir dari bagian pencitraan adalah puisi berangkat dari pengalaman. Puisi yang dituliskan berdasarkan pengalaman, maka pencitraan akan kompleks, terlebih dia tidak mengada – ngada/menerawang, sehingga para pembaca akan mudah untuk mencitrakan puisi.

– Selanjutnya, masih bagian unsur dalam adalah ritme/irama. Baik tidaknya ritme puisi biasanya setelah ada proses deklamasi/pembacaan puisi. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam ritme atai irama adalah rima, baik rima dalam maupun rima luar. Tugu miring yang ramping, menjadi saksi mati dalam hening (rima dalam), sedangkan rima luar seperti pantun pada umumnya. Kemudian bunyi yang teratur dalam sebuah sajak akan menciptakan ritme yang baik dan para pembaca akan lebih menikmati puisi tersebut.

– Ritme yang baik akan ter-judge setelah adanya proses deklamasi. Sedangkan deklamasi memerlukan tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu : tekanan dinamitik, tekanan nada dan tekanan tempo.

– Selanjutnya yang terakhir dari unsur luar adalah majas. Majas berbeda dengan diksi tersirat pada dasarnya. Majas lebih radikal dalam mengsiratkan sesuatu. Pada umumnya contoh – contoh majas yang dileburkan dalam sastra puisi berjenis, hiperbola, metafora, personifikasi, dan perbandingan.

– Itu tadi unsur luar dari sastra puisi dan sekarang kita masuk ke dalam unsur dalam seperti : tujuan/amanat, nada/tune, rasa/feeling, subject matter, dan tema.

– Pada tujuan/amanat terdiri dari beberapa jenis seperti amanat dalam ranah sosial, filosofih, religis ataupun lainnya. Karya – karya Taufiq Ismail sering mengamanatkan tentang perjuangan ataupun puisi Chairil Anwar (Senja di Pelabuhan Kecil) tentang romantik.

– Selanjutnya ialah nada/tune. Berbeda dengan ritme/irama, nada adalah bunyi yang biasanya terlampir di puisi seperti nada mengejek (kotoronnya pun enggan dimakan angjing), menggurui, ironis, asyik dan sebagainya.

– Selanjutnya bagian unsur dalam puisi adalah rasa/feeling. Penekanan bagian ini adalah sikap seorang penulis terhadap pokok – pokok pikiran. Jika pokok – poko pikiran dari puisi adalah tentang keganasan penjajah ketika perang, tentunya rasa si penulis harus sesuai dengan pokok pikiran tersebut dan bisa diejahwantakan dengan rasa selain menggunakan diksi.

– Subject matter adalah pokok – pokok pikiran tersebut. Ini berhubungah dengan rasa/feeling tadi.

– Dan yang terahir bagian dari unsur dalam adalah tema. Tema adalah alunan dasar dari sebuah sajak.

Unsur dalam dan unsur luar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dair sesajak puisi yang baik. Dengan memperhatikan unsur – unsur tersebut, niscayalah karya puisi kita bisa dikatakan baik walaupun assesment terhadap sastra puisi bersifat subjectif. Tetapi yang penting sebagai modal penulis adalh kemauan. Untuk melepaskan beban unsur – unsur tersebut serta iming – imingan puisi yang baik tadi, kita bisa melepaskannya terlebih dahulu. Kita bisa meletakkan sekarung beras yang akan kita antar dari pasar ke rumah dalam perjalanan. Lalu kita istirahat sejenak. Kemudian setalah siap kita kembali mengangkat sekarung beras tadi. Begitu juga dalam menulis puisi. Kita tinggalkan sejenak koridor – koridor yang ada. Dan kita bisa lepas menulis tanpa beban tanpa koridor. Yang penting kita nulis saja sesuka dan serileks mungkin.

Untuk menulis kita butuh referensi. Referensi yang baik adalah membaca. Oleh karena itu dalam menulis puisi tentunya kita sudah memiliki moda yaitu membaca tentang sastra puisi. Bagaimana mungkin seorang bisa menulis puis jika dia tidak pernah membaca sesejak puisi??

Maka sangat dibutuhkan keseringan kita membaca puisi untuk mendukung kemampuan kita dalam menulis puisi.

Dalam membaca puisi kita perlu memahaminya. Pemahaman terhadap puisi berbeda dengan memahami bacaan non-fiksi. Berikut ini adalah cara untuk memahami sebuah puisi :

1.Memahami makna yang terkandung dalam judul puisi

2.Memahami gambaran makna umum dari puisi

3.Menetapkan kata/diksi yang digolongkan simbol atau lambang

4.Menentukan diksi/kata denotasi dan konotasi

5.Memahami makna setiap simbol dalam puisi

6.Memahami makna yang terdapat dalam setiap baris puisi

7.Memahami makna antara baris puisi yang satu dengan baris puisi lainnya

8.Memahami satuan – satuan pokok pikiran dalam puisi

9.Memahami sikap penyair dalam pokok pikiran

10.Merangkum hasil pemahaman dalam pokok pikiran

11.Menentukan tema puisi

Pengalam kita dalam memahami puisi secara kompleks akan menambah khasanah kita tentang sastra puisi. Ini akan berdampak nantinya tentang bagaimana kita bisa menulis puisi yang baik. Setelah kita bisa memahami puisi dengan memperhatikan hal – hal diatas, kita juga akan terbiasa menulis puisi juga sesuai dengan hal – hal terebut.

Menulis adalah pekerjaan yang tidak rumit, karena Anda dan saya sudah belajar menulis bertahun – tahun. Begitu juga dengan menulis puisi. Letak masalahnya adalah bagaimana kita memandang puisi adalah penting dan tidak sebelah mata.

Dewasa ini apresiasi terhadap puisi masih kurang. Hal ini disebabkan karena para pembaca tidak memahami makna yang disampaikan puisi secara gambalang, menyebabkan para pembaca bosan dan jenus bahkan muak dengan puisi. Sketsa ini setidaknya terlihat pada perkembangan dunia sastra hari ini.

Tetapi tidak untuk kita yang ingin terus belajar untuk menulis puisi. Puisi adalah karya seni yang membutuhkan tidak saja merangkai kata yang baik tetapi lebih dari itu adalah sebuah bentuk pembelajaran urat – urat otak kita masing – masing. Dari sini otak kita akan terbisasi tersistematis dan memiliki kemampuan imajinasi yang luar biasa. Salah satu bentuk kecerdasan emosinal kita akan terbangun.

kata yang ditanam akan kelak dituai…………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s