PARADOKS SEKULER KEISLAMAN

Paradoks Sekuler Keislaman

Sudah barang tentu agama merupakan hal yang berbeda dengan ilmu pengetahuan. Banyak hal – hal yang menjadi bagian dari agama tidak bisa disangkutpautkan dengan ilmu pengetahuan. Kita tidak bisa menghubungkan bagaimana proses penciptaan dari segi agama dan dari sudut pandang sains. Ini konyol dan akan saling bertabrakan seperti para asteroid yang selalu bertumburan dengan benda – benda luar angkasa lainnya. Belum bagaimana manusia tercipta atau bagaimana mahluk hidup berevolusi. Tentu sangat berbeda sudut pandang agama dengan sudut pandang ilmu pengetahuan. Barangkali sekelumit konflik mendasar ini direspon oleh para ilmuwan kebanyakan dulu sehingga ketika agama tidak bisa dilogikan, mereka seolah meragukan agama itu sendiri. Bahkan lebih dari itu, mereka meragukan Tuhan. Pengetahuan memang bisa merubah segalanya tetapi untuk hal lain mungkin pengetahuan harus menyisih karena pengetahuan juga berasal dari sesuatu. Artinya pengetahuan juga diciptakan. Hanya Firman yang Terang, Jalan Keselamatan.


Ketika mengunjungi pameran buku yang ada di gramedi beberapa minggu yang lalu, saya melihat sebuah buku yang menarik dan sepertinya memiliki judul yang mengesankan yaitu : “Hegemoni Kristen – Barat, dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi.” Tulisan ini dialasi oleh cover putih dengan seluet gambar toga wisudawan. Dan ketika saya menuliskan ini, buku itu sudah saya baca dan saya tuliskan beberapa pengkajian yg bisa saya dapatkan dan share ke Anda.

Tahun 579 M atau sekitar 1432 tahun yang lalu lahir sebuah agama atau the last religion yang ada didunia. Terlepas sekarang ini ada agama Konghucu yang merupakan turunan fari Buddha, tetapi julukan The Last Religion masih terletaka pada agama Islam. Agama yang dirintis oleh Nabi Muhammad SAW ini merupakan agama yang tercipta berdasarkan wahyu langsung dari Tuhan. Dan kitab suci Islam sendiri merupaka wahyu langsung dari Tuhan. Namun di tubuh keislaman sendiri banyak yang masih kontra terhadap hal ini. “jika yang menulis Al-quran adalah Muhammad bagaimanapun itu bukan kita Islam, itu kitab Muhammad.” Beberapa kalangan mengatakan seperti ini dan ini timbul dari Keislaman sekuler. Pada dasarnya semua agama juga seperti itu. Artinya memiliki kitab yang diwahyukan kepada perantara agar bisa dituliskan dan menjadi Kitab suci.

Buku yang saya baca ini amatlah ilmiah dan baik tetapi sedikit lebih pendoktrinan secara tidak langsung. Didalamnya diberitahukan bahwa Islam bukanlah sekuler, orientalis, plural dan jamak. Islam tetap satu pada keislaman Tuhan. Buku ini mengatakan bahwa Islam telah bergeser, dan pergeserannya bukan hal lain melainkan semuanya terjadi karena adanya hegemoni dunia barat orientalis sehingga banyak muslim terkontaminasi oleh orientalis barat. Dan jalur yang dijadikan media adalah pendidikan. Banyak prosfesor ataupun dokor Muslim yang mengambil filsafat Islam ataupun jurusan lainnya mengenai Keislaman, banyak diajarkan tentang Islam yang liberal dan Plural. Sehingga lulusan – lulusan Muslim Indonesia yang kuliah ke luar negeri khususnya ke daerah barat, banyak menganut paham yang telah menyimpang dari keislaman itu sendiri. Persepsi buku ini setidaknya seperti itu, sehingga ketika mereka kembali ketanah air dan mereka menjadi tenga pengajar di perguruan tinggi, yang dianggap kontaminasi tadi di ajarkan kembali ke mahasiswa – mahasis di perguruan tinggi seperti di STAIN, IAIN dan lain sebagainya.

Selain ini ada catatan – catatan penting yang bisasaya kutip diantaranya :
– Peristiwa perang salib. Tentara salib (orang – orang Kristen) memasuki Jerusalem pada tahun 1099 – 1187 dan membantai umat Muslim kira – kira 30.000 orang. Tentara Salib memasuki Marrit Un-Norman , Syria tahun 1098 dan membantai kira – kira ratusan ribu orang
– Shalahuddin al-ayyubi adalah prajurit perang muslim bersama pasukkannya yang menaklukkan tentara Salib pada tahun 1187 dan merebut Jerusalem
– Ulama As-su’ merupakan ulama yang seharusnya menjaga agama bukan menjadi pembuat penghancur agama.

Pada kondisi perang salib tidak semua tokoh – tokoh muslim menginginkan perang sebagai solusi melawan tentara salib pada waktu itu. Sehingga banyak pengdiskreditan terhadap tokoh – tokoh muslim yang tidak ingin melakukan peperangan untuk menyelesaikan masalah.

Kemudian kita sampai pembahasan topik hermeneutika atau penafsiran baku. Pada dasrnya banyak interpretasi umat muslim terhadap Al-quran sendiri. Kelogikaan berpikir dalam menerjemahkan Al-quran ini disebut dengan hermeneutika Al-quran. Sehingga timbul persolan tentang ini.
Saya mencatat dari buku ini, ada 3 persoalan yang timbul dari hermeneutika ini yaitu :
1. Teks tidak lepas dari kepentinga – kepentingan tertentu baik dari si pembuat naskah, budaya masyarakat saat Al-quran dibuat
2. Hermeneutika cenderung memandang teks sebagai produk budaya manusia dan abai terhadap hal – hal yang sifatnya transenden
3. Aliran hermeneutika sangat plural dan karenannya kebenaran tafsir ini menjadi sangat relatif yang pada gilirannya menjadi repot untuk diterapkan

Setidaknya dampak dari hermeneutika sendri akan muncul bersamaan dengan perlakuan hermeneutika itu sendiri. Inilah memang ketika logika sudah disangkutpautkan dengan agama atau dalam hal ini Kitab Suci maka seperti tidak pernah ketemu benang merahnya karena dipengaruhi tiga persoaln tadi. Dampak umum yang muncul dari hermeneutika ini sendiri adalah akan timbul suatu masalah dimana ada ras curiga dan sebuh interupsi terhadap Al-quran sehingga pada puncaknya hermeneutika akan menghasilkan keuputusasaan terhadap Al-Quran.

Keselahan mendasar yang dilihat si penulis ketika zaman Nabi Muhammad adalah pasca Nabi Muhammad wafat, ternyata penerus – penerus beliau tidak terlalu aktif dan kurang kreatif dalam mengembangkan Al-quran.
Setidaknya ini yang dikatakn Abu Hafsin dalam bukunya “Dekonstruksi Islam Mazhab Ngaliyan : Pergulatan Pemikiran Keagamaan Anak – anak muda Semarang” yang dikutip penulis dalam buku ini.

Barangkali inilah beberapa kesimpulan dan inti sari yang coba saya ambil dari buku ini. Setidaknya ini bisa membuka wawasan kita bahwa bagaimana sebenarnya umat muslim memandang Islam sekuler ini. Apakah jika umat muslim bisa melihat relevansi Islam sekuler terhadap kondisi dan budaya bangsa Indonesia yang dimana memiliki keberagaman yang tinggi. Walaupun simpang siur masih beredar tentang filosofih Islam sekuler yang masih dianggap merupakan produk orientalis barat yang dianggap sebagai ancaman. Terlepas dari itu semua, bangsa Indonesia harus bisa bersama – sama untuk menggalang persatuan yang akan berdampak kepada kesatuan bangsa. kita berada di tanah pertiwi karena kita ditakdirkan untuk bersama terlepas kita memiliki perbedaan masing – masing.

Demikianlah sekilas catatan – catatan yang bisa saya ambil dari buku ini, dan sekali lagi saya saya minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan dengan Sang Khalik saya mohon Ampun, terimah kasih, Salam Indonesia….

Awal Desember 2011

Ref :
Judul : Hegemoni Kristen – Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi
Penulis : Adian Husaini
Penerbit : Gema Insani
Kota : Jakarta
Tahun : 2006
Tebal : xvii + 298 hal
ISBN : 979-56-0098-2

SUMBER : http://abadiorkes.blogspot.com/2011/12/paradoks-sekuler-keislaman.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s