Meregang dan Mengucur

Meregang dan mengucur
38 tahun lalu seperti yang kita ketahui bersama – sama bahwa saudara – saudara kita harus meregang nyawa demi memperjuangkan permasalahatan hidup orang banyak. Pada peristiwa 15 Januari 1974 silam, mereka berjuang untuk menolak kekuasaan kapitalisme dalam lingkaran liberal. Tetapi sampai sekarang sepertinya penghargaan atas darah mereka tidak ada. Bahkan permasalahan yang timbul semakin banyak. 


Lalu siapa lagikah yang memperhatikan pelbagai masalah yang timbul di Negara kita jika bukan kita?
GMKI, GMNI, HUMANIKA, LMND, KAMMI, KMHDI, PMII,  PMKRI yang mengatasnamakan Pemuda dan Mahasiswa se – Lampung cukup gerah dengan potret keadaan bangsa dewasa ini. Dari tahun ke tahun bukannya semakin baik, justru belakangan ini permasalahan bangsa kita semakin menggunung. Sementara rakyat tidur di kolong jembatan dan jalan tol, anggota dewan yang terhormat sedang asyik – asyiknya menghabiskan duit rakyat untuk memperbaiki toilet. Keadaan yang contradictio in termini.
Harus menunggu berapa banyak lagikah nyawa yang teregang atau linang air mata yang mengucur agar pemerintah bisa lebih serius mensejahterakan bangsa? 
Hari ini yang dibutuhkan rakyat bukan sekedar mall yang megah, kantor pemerintahan yang luas, toilet yang mewah , atau mobil ber-AC. Rakyat butuh dihargai sebagai manusia – beras untuk dimakan, rumah layak huni dan pendidikan dalam rangka memperbaiki kehidupan yang lebih baik. Tragis memang ketika kita berdiri di pertiwi yang kaya lalu kita hanya bisa merasakan derita dalam selimut Neo – leberalisme seperti tikus yang mati di tumpukan padi. Kemudian yang lebih ‘unik’ lagi ketika rakyat harus diusir oleh sebuah perusahan asing dari tanah mereka sendiri sementara Tanah Indonesia sudah merdeka lebih dari 66 tahun. Tentunya kemerdekaan yang kita maksud bersama perlu ditinjau ulang atau memang Negara Indonesia belum merdeka sejatinya.
Oleh karena itu, setelah mengadakan kegiatan refleksi awal tahun 2012, terangkumlah suatu aspirasi dari hasil dialektika perwakilan mahasiswa dan pemuda se – Lampung sebagai berikut :
1.        Keberpihakan pemerintah dari tingkat pusat maupun daerah kepada sistem Neo – Liberalisme, merupakan penyebab dan sumber kemelaratan bangsa Indonesia sampai hari ini;
2.        Supremasi penegakkan hukum yang tebang pilih serta produk perundang – undangan yang masih bermasalah di Republik ini;
3.        Tidak ada jaminan tentang kebebasan beragama sehingga menjadi sangat penting untuk menegakkan 4 pilar bangsa RI (Pancasila, UUD’45, NKRI, Bhineka Tunggal Ika);
4.        Sistem pendidikan belum bisa menciptakan out put mahasiswa yang bermutu dan berkompeten untuk siap bersaing di dunia kerja. Disamping itu realisasi anggaran pendidikan sesuai amanah konstitusi pun masih bias;
5.        Kasus Agraria,
a.        Mendesak pemerintah untuk melaksanakan UUPA tentang reformasi Agraria,
b.        Segera membentuk panitia penyelesaian konflik agraria;
6.        Membangun Industrional untuk kesejahteraan rakyat;
7.        Nasionalisasi seluruh perusahaan asing;
8.        Hentikan represifitas terhadap rakyat dan usut tuntas kasus HAM;
9.        Usut tuntas kasus korupsi (kasus BLBI, Century, Wisma Atlet, dll);
10.     Pemerintah Provinsi lambat dalam penyelesaian agraria di provinsi Lampung;
11.     Kebijakan Pemerintah Kota dan Provinsi yang mengesampinngkan tata ruang dan AMDAL terhadap pembangunan infrastruktur seperti: pembangunan hotel, Mall, Rumah sakit;
12.     Gubernur telah ingkar janji mengenai UMP setelah KHL;
13.     Realisasi CSR seharusnya agar tepat sasaran;
14.     Pembangunan dan pengadaan pelayanan publik yang minim dan tidak tepat guna;
15.     Pertegas tugas pokok dan fungsi POLRI dan TNI untuk menjaga keamanan dan kedaulatan NKRI khususnya tentang batas wilayah negara;
16.     Subsidi yang tidak tepat sasaran;
17.     Pemerintah harus membuat proteksi untuk usaha – usaha mikro dan mencabut izin pendirian mini market yang berkaitan dengan pasar;
18.     Mengembalikan ekonomi kerakyatan mengenai koperasi.
Tentunya pada momentum Peristiwa Lima Belas Januari, ini menjadi bahan refleksi kita terhadap apa yang terjadi dengan bangsa dan Negara kita. Dan kedelapan belas tuntutan ini seyogianya akan terus dikawal dan dikontrol serta menjadi fokus kami untuk melihat sejauh mana perubuhan – perubahan yang terjadi dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
Akhir kata, hidup bangsa Indonesia!
CP : Hendry Sianturi (085296993736)
        Falentinus (085769827660)
        Isnan Subkhi (085758212009)

 

Atas nama,

Mahasiswa dan Pemuda se – Lampung
(GMKI, GMNI, HUMANIKA, LMND, KAMMI, KMHDI, PMII,  PMKRI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s