Humanis adalah sisi fundamental manusia

Humanis adalah sisi fundamental manusia
Menilik beberapa peristiwa duka akhir – akhir ini seperti beberapa kejadian kecelakanaan kendaraan yang ‘marak’ terjadi, menjadi pengawal kabar haru di tahun 2012 ini. Secara tersirat peristiwa yang terjadi belakangan ini merpakan pertanda bahwa tahun ini akan dilalui dengan cukup berat bagi masyarakat Indonesia. Seolah – olah beberapa peristiwa duka tersebut member sinyal bahwa kita harus siap melalui masa – masa sulit ke depannya di tahun ini. Walalupun terlalu dini untuk disimpulkan, setidaknya berita duka yang terjadi baru – baru ini cukup memantik animo masyarakat untuk berempati khususnya kepada keluarga dari korban – korban yang ‘tak berdosa’.
Tapi pada kesempatan kali ini ada yang menarik untuk disaksikan bahwa tanggapan yang cukup responsive dari masayarakat Indonesia ketika melihat beberapa kejadian kecelakaan yang terjadi, mulai dari peristiwa Tugu Tani, Tabrakan mobil di Makasar, dan Kecelakaan bis di Jawa Barat, yang telah menelan koraban dan ‘sedanau’ air mata dari keluarga yang ditinggalkan. Banyak percakapan – percakapan yang terbangun di masyarakat tetang peristiwa ini. Dan tanggapan yang ada dalam masyarkat mengerucut pada satu benang merah yaitu empati.
Sebenarnya ini alamiah dan manusiawi. Terlepas dari publikasi media, peristiwa duka ini memang layak menjadi sorotan masyarakat. Pada dasarnya hal ini sangat dipengaruhi oleh psikis manusia, karena setiap manusia tanpa melihat latarbelakangnya, pasti memiliki sisi humanis sekecil apapun. Hanya saja letak kadar dan sensitivitasnya yang menjadi perbedaan mendasar dalam tiap – tiap individu.
Sifat humanis memang lebih mengedepankan rasa/perasaan berempatik untuk mengejawantahkan hasrat dalam diri melihat kejadian – kejadian di luar diri itu sendiri. Hanya saja memang untuk memunculkan sisi – sisi humanis yang ada pada diri seseorang memiliki hal – hal yang menghambat. Beberapa factor yang sering menghambat sensitivitas dan munculnya sisi humanis manusia diantaranya,
Pertama adalah sistem Negara. Dalam hal ini kita mengambil uji kasusnya di Indonesia. Melihat beberapa aturan yang telah ditetapkan, banyak diantaranya tumpang tindih dengan undang – undang baik di bawah dan diatasnya. Tentunya ini akan berpengaruh pada kondisi psikis masyarakat. Salah satu contoh aturan ialah aturan Menteri Pendidikan R.I. yaitu  Bambang Subdibyo yang pernah mengusulkan dan diajukan kepada DPR untuk dibahas tentang UU BHP. Peraturan ini sangat jelas menghambat rasa berempatik dalam masyarakat. Esensi hukum ini dimana kampus dapat menjadi BLU (Badan Layanan Umum) yang sarat dengan unsure liberal yang menguntungkan Kapital. Jika kampus sudah di’perdagangkan’ ini akan menjadi ancaman kepada masyarakat dari kalangan bawah yang ingin berkuliah dan menjadi mahasiswa nyatanya akan terhambat oleh sistem yang ada. Dan akhirnya UU ini kembali dibatalkan walaupun sempat disahkan karena tidak relevan dan sangat merugikan masyarakat kalangan bawah. Sehingga sistem akan mengajarkan bagaimana keuntungan bisa dicapai dengan merelakan masyarakat lainnya menderita.
Sebenarnya jika para elit pembuat UU cermat dan bijak dalam mengejawantahkan dan menurunkan UUD’45, niscaya bangsa ini bisa lebih sejahtera. UUD’45 adalah manifestasi yang berlatarbelakang humanis karena memang pada proses penggodokan dan pembuatannya ketika itu memang pada kondisi berjuang bersama – sama pasca proklamasi. Perjuangan yang didasarkan semangat kekeluargaan dan gotong royong yang sepertinya semua itu akan lekang ditelan sistem yang memang juga sepertinya sengaja dibuat untuk melekangkan semangat filosofis bangsa Indonesia.
Kedua adalah momentum dan kesempatan. Factor ini lebih melihat pada keinginan untuk menciptakan kesempatan dalam berimpatik. Hasrat berimpatik sering di tumburkan dengan perasaan antiklimak yang ada dalam diri kita. Keinganan untuk memunculkan rasa impatik sering di hambat terhadap pengaruh kenegarifan yang ada pada diri seperti, rasa stress, trauma dan efek negatiflainnya. Inilah yang sering mempengaruhi keinginan untuk berempatik, sehingga manusia harus bisa menghindari dari kenegatifan yang ada pada diri agar tidak menjadi penghambat memunculkan rasa empatik.
Ketiga adalah pola pikir. Ada hal yang paling sederhana sering terpikirkan manusia sehingga menghambat rasa simpatik, salah satu contohnya adalah ketika seseorang sedang menderita atau sengsara, lalu orang lain berpikir bahwa itu resiko yang memang layak dia peroleh dari apa yang telah dia lakukan. Ini menjadi sering kita lihat semisalnya di jalan raya ketika para pengamen jalanan atauun pemngemis yang meminta – minta, terkadang sudah tidak kita beri dengan suatu yang bermanfaat tidak jarang juga kita sering berpikiran bahwa mereka seharusnya tidak seperti ini jika mereka rajin dan giat. Dan pola pikir seperti inni juga menjadi sah – sah saja. Tetapi alangkah indahnya seandainya humanistic kita sering muncul tak terkecuali kepada saudara – saudara kita yang mederita.
Keempat adalah teknologi. Teknologi dalam hal ini meliputi yaitu internet, media cetak dan telekomunikasi. Komunikasi dewasa ini sering terjalin dengan memanfaatkan teknologi. Sudah jarang kita melihat seseorang datang ke tempat orang lain hanya untuk bercakap – cakap dan bersilahturahmi. Di zaman mondial ini seseorang lebih senang jika berkomunikasi memanfaatkan teknolig karena untuk mengefisiensikan waktu. Letak teknologi sebagai penghambat rasa empatik adalah kurangnya kehangantan komunikasi yang terbangun jika menggunakan medium salah satunya teknologi. Seseorang akan lebih akrab jka saling berpandangan dan bertatap wajah. Sehingga ketika komunikasi nyata sudah terbangun, tak akhyal sisi humanis itu sendiri telah tertanam dalam diri kita. Namun jika dimenafaatkan dengan baik, teknologi juga bisa menjadi peluang untuk meningkatkan dan menumbuhkembangkan rasa humanis pada diri seseorang.
Keempat factor ini menjadi sudut pandang saya melihat realitas sekrang ini. Ramalan sio naga pun dipertanyakan dan sepertinya telah menjadi kontraproduktif dengan apa yang terjadi awal tahun 2012 yang menjadi sorotan masyarakat tentang persitiwa kecelakaan yang menyebabkan duka bagi masyarakat kita.
Harapannya kedepan, mari kita perkuat bangsa dan Negara ini dengan memperkuat sisi – sisi humanis kita, agar bangsa kita akan selalu rukun dan damai walaupun derita tak kunjung usai dan badai belum mereda, tetapi dengan adanya sisi humanis masayaralat Indonesia, niscaya bangsa kita akan tetap akur, dan rukun, kuat dan kokoh di tengah derasnya arus globalisasi.
tolong di like ya teman – teman, fan FB nya:)
tinggal klik aja kaleng Facebuknya…
salam:)
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s