Revitalisasi Perguruan Tinggi: Konsep dasar mengangkat martabat bangsa


“Mengapa kau tidak kuliah hari ini Jhon” kata lelaki yang kemarin baru menginjak usia 21 tahun. Pria bernama Ricky ini adalah teman sekamar kosan Jhon sejak mereka menjadi mahasiswa di salah satu universitas negeri favorit di Indonesia.”Aku bosan dengan hal yang menjenuhkan ini, duduk di ruangan sumpek dan mendengarkan seorang yang kita anggap dewa.
Barangkali sudah berates – ratus kali yang diucapkan itu selalu di ucapkan kembali kepada mahasiswanya. Sudah 7 semester kita lalui tetapi belum sedikit pun aku melihat mahasiswa sekarang memiliki perbedaan yang mendasar dengan teman – teman kita yang tidak kuliah atau yang kuliah di universitas swasta yang kebanyakan tidak lebih bagus kualitasnya ketimbang kampus kita. Sepertiya jadi mahasiswa adalah tak ubahnya dengan apa yang ku lakukan detik ini – tidur dan tidur lagi.” Jawab Jhon dengan nada sedikit emosi dan dengan wajah interupsi.
Setengah bijak Ricky berkata: “ inilah potret sistem pendidikan kita Jhon. Memang apa yang kita lakuka saat ini sebagai mahasiswa tidak ada gunanya. Tetapi percayalah tanpa kita menjadi mahasiswa kita akan kesulitan untuk membicarakan impian – impian kita dulu Jhon untuk menrubah sistem pendidikan yang hari ini membatasi potensial anak bangsa. Untuk sekarang kita sepakat bahwa pendidikan di perguruan tinggi tidak ada ubahnya dengan yang lain, tetapi kita juga harus sadar bahwa yang memungkinkan kita lakukan adalah membangun pondasi impian kita dengan berkuliah dengan baik dan benar. Kelak jika kita sudah berhasil, kita akan bangun sistem pendidikan yang bermutu. Bagaimana mungkin kita bisa bicara banyak tentang perubahan sedangkan kita hanya sebagai penonton? .”
Setelah mengencangkan tali sepatu kanannya, Ricky meninggalkan kamar kosan dan pamit kepada Jhon yang termangu atas dialog singkat dua sahabat kosan.
Memilukan ketika mendengar banyaknya masyarakat yang antusias untuk bekerja di luar negeri sebagai pekerja kasar. Bahkan tidak sedikit juga bangsa kita bangga dengan status TKI. Tapi ada juga yang memang terpaksa menjadi TKI karena keadaan dan kondisi memaksanya untuk seperti itu, mencari sesuap rejeki untuk keluarga – anak dan istri.
Memperihatinkan ketika dinegara sendiri para sarjana kita selalu enjadi bawahan di perusahaan – perusahaan asing sedangkan yang menjadi CEO rata – rata orang asing. Dengan iming – iming gaji besar (menurut mind set bangsa kita) mereka siap bekerja dan mengikuti sistem demi keuntungan yang besar dan semuanya bukan untuk bangsa kita.
Dan yang lebih mengerikan lagi ketika kampus – kampus hanya melahirkan calon – calon sampah masyarakat dan pengangguran. Tidak hanya kampus – kampus yang berkualitas rendah bahkan kampus – kampus negeri yang cukup diakui pun tidak luput sebagai pabrik pencetak pengangguran.
Lalu apakah kita masih percaya dengan perguruan tinggi saat ini untuk menjamin masa depan suatu bangsa dan mengangkat derajat bangsa? Atau adakah alternative yang lebih baik untuk mahasiswa dalam menumbuhkembangkan benih – benih perubahan dalam rangka memajukan bangsa?
Cerita pembuka diatas merupakan sketsa yang tidak sedikit terjadi di dunia mahasiswa dewasa ini. Sepengamatan saya mahasiswa yang jarang untuk mengikut perkuliahan di kampus kebanyakan karena merasa bosan dengan rutinitas kampus. Dengan kata lain, menjadi mahasiswa sangat menjenuhkan dan tidak menarik. Dan jika peradigma mahasiswa selalu seperti ini, bukan tidak mungkin perguruan tinggi dalam kurun lima tahun ke depan akan menjadi pabrik yang besar – pabrik penghasil sampah masyarakat.
Perguruan tinggi belum bisa menjamin perubahan bangsa. Padahal seharusnya perguraan tinggi menjadi center dan harapan suatu bangsa untuk membawa Negara ini menjadi lebih baik. Perguruan tinggi merupakan wadah pendidikan formal yang menjadi finishing seorang mahasiswa benar – benar menjadi manusia (human de human).
Sekulumit kesenjangan yang terjadi di Negara kita sedikit banyak sangat dipengaruhi oleh out put perguruan tinggi. Artinya jika perguruan tinggi dapat menghasilkan out put yang menjanjikan barangkali sketsa bangsa kita lebih baik ketimbang hari ini. Permasalhatan bangsa yang terjadi sekarang ini memang dimulai dari permasalahan personal quality (kualitas personal). Salah satu contoh adalah jika perguruan tinggi mampun melahirkan manusia yang siap bersaing, perusahaan – perusahaan besar di Negara kita mungkin akan dipimpin oleh bangsa kita. CEO – CEO perusahaan akan diduduki wajah – wajah bangsa Indonesia. Kemudian bagaimana kualitas personal secara moral juga bangsa ini masih sangat rendah. Kesadaran terhadap aturan sangat minim, sehingga kasus – kasus korupsi menjadi tindakan yang sudah membudaya di Negara kita. Dan masih banyak lagi permasalahatan bangsa yang bersumber dari hal yang prinsipil yaitu rendahnya kualitas personal bangsa kita.
Seyogianya perguruan tinggi dalam hal ini harus bisa berefleksi tentang bagaimana bisa menciptakan out put yang memiliki kualitas personal yang baik. Tetapi permasalahannya perguruan tinggi seperti tutup mata dan lepas tangan atas apa yang terjadi di bangsa kita. Seolah ini bukan menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. Padahal seseorang yang sudah memasuki duniak kerja, pada dasarnya sangat dipengaruhi bagaimana dia mencari seoonggok ilmu di perguruan tinggi.
Fungsi perguruan tinggi sebagai penghasil manusia yang bermutu saat ini dikatakan gagal. Tidak banyak yang bisa dilakukan perguruan tinggi untuk mengangkat derajat bangsa. Posisi perguruan tinggi sebagai penghasil agent of change sudah mulai luntur. Dan kalau terus seperti ini, maka tidak lama aka nada pengumuman bahwa INDONESIA KEMBALI DIJAJAH.
Perguruan tinggi harus berbenah. Revitalisasi perguruan tinggi adalah solusi yang dapat dilakukan saat ini. Indonesia pernah berdiri di bawah kaki sendiri tanpa ada campur tangan asing karena saat itu Indonesia memilik pemuda yang bermutu dan berkompeten. Kualitas personal yang nasionalis dan kebangsaan menjadi jargon utama. Perguruan tinggi dapat memberikan asa untuk mengangkat derajat dan martabat bangsa terhadap pandangan dunia.
Namun saat ini yang terjadi sangatlah kontradiktif dengan yang pernah ada ketika Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri.
Sudah saatnya perguruan tinggi melakukan revitalisasi secara masif. Masyarakat menanti manusia – manusia yang dilahirkan oleh perguruan tinggi menjadi jawaban atas permasalahan yang terjadi di Negara kita. Masyarakat sudah bosa dengan janji – janji penguasa. Masyarakat membutuhkan hal – hal yang konkret. Dan satu – satunya yang bisa melakukan hal tersebut adalah manusia – manusia yang memilik personal kualitas yang baik dan itu dihasilkan oleh perguruan tinggi.
Pada dasasrnya dalam melakukan revitalisasi perguruan tinggi tidaklah mudah. Perbaikan dan perubahan seharusnya dilakukan disetiap sendi perguruan tinggi.
Pertama ialah Reorientasi. Sistem perguruan tinggi telah menerapkan sistem SKS yang dari segi negatifnya akan berdampak buruk bagi personal kualitas seorang mahasiswa. Kecenderungan pada hasil belajar bukan pada prosesnya sangat riskan terjadi. Mahasiswa yang berorientasi hanya hasil belajar akan cenderung menghalalkan segala cara agar dia bisa mendapat nilai yang tinggi, sehingga bisa cepat lulus karena selalu menadapat jatah sks yang banyak. Padahal hakikat pendidikan adalah proses bukan hasil. Itu mengapa ada orang yang tidak kuliah di fakultas pertania tetapi dia sukses sebagap petani kelapa sawit. Atau seorang yang tidak memiliki kuliah di jurusan bahasa inggris, tetapi dia bisa berbicara sangat fasih bahasa inggris. Hal ini bisa terjadi karena walaupun seseorang tidak kuliah di jurusan yang dimaksud diatas tetapi dia telah menagalami suatu proses yang tidak sebentar. Sehingga bisa menjadi lebih baik.
Oleh karena itu perguruan tinggi mulai melakukan reorientasi bukan pada hasil beljar saja melakinkan lebih ditekankan pada proses pembelajaran di perguruan tinggi.
Kedua ialah Refilterisasi. Seleksi atau ujian masuk menjadi mahasiswa kurang baik. Alasan yang paling mendasar adalah konsep penyeleksian tidak merepresentasi seseorang layak menjadi mahasiswa disuatu jurusan. Seleksi hanya dilakukan berdasarkan ujian akdemik. Padahal seleksi awal adalh langkah awal seseorang menjadi mahasiswa. Intinya adalah tidak banyak mahasiswa yang salah jurusan. Dan jika sudah seperti ini maka ketika lulus dari perguruan tinggi sepertinya tidak ada gunanya. Atau pada proses menjadi mahasiswa tidak banyak yang bisa dilakukan karena dia menyadari bahwa dia telah salah jurusan. Oleh karena itu perguruan tinggi perlu melakukan refilterisasi dalam penyeleksian menjadi mahasiswa. Perlu adanya penambahan jenis ujian yang bisa merepresentasi keinginan atau dasar kompetensi yang dimiliki calon mahasiswa.
Harapannya, perguruan tinggi lebih bisa menghasilkan lulusan yang efektif dan bisa menjadi penerus sekaligus pondasi bangsa dalam rangka mengangkat martabat Negara kita.
tolong di like ya facebook ABADIORKES..)) minta bantuannya juga ya untuk klik kaleng Facebooknya untuk like di fan-facebook🙂
ada artikel dan e-book menarik untuk Anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s