Mahasiswa di Tengah Masyarakat

Di tengah zaman hedonisme dewasa ini, cukup rumit

jika kita ingin menanyakan sudah sejauh mana partisipasi dan pengaruh mahasiswa

terhadap perkembangan masyarakat. Rumit tetapi bukan tidak mungkin untuk
diefektifkan kembali status mahasiswa menjadi tonggak estafet bangsa untuk
memajukan masyarakat. Korelasinya adalah mahasiswa merupakan salah satu
kompoenen masyarakat dan mendapat atribut sebagai kaum intelektual. Oleh karena
itu mahasiswa dituntut agar dapat berpartisipasi di tengah masyarakat. Anthony
Giddens salah satu teoritikus sosial menegaskan bahwa setiap manusia seharusnya
dapat berpartisipasi atau “bertindak” dalam konteks kehidupan sosial juga
mencakup pengetahuan tentang bagaimana mematuhi peraturan (rule).1
Pada dasarnya banyak permasalahan yang hadir
ditengah – tengah masyarakat saat ini seperti, krisis moral. Dalam kurun beberapa tahun ini sangat sering kita
saksikan bagaimana bangsa kita dilanda kepesimisan hidup sehingga dengan mudah
diprovokasi untuk melakukan hal – hal yang sejatinya sangat bertolak belakang
dengan budaya bangsa kita. Salah satu contoh yang sangat memiriskan wajah
bangsa kita adalah pertikaian dan perselisihan sesama masyarakat Indonesia.
Tidak jarang akhir – akhir ini terjadi pertikaian yang dilakukan orang – orang
baik antar daerah ataupun antar suku bahkan antar agama. Kebanyakan konflik
yang terjadi di Indonesia semula diawali dengan hal – hal sepele, hanya saja
ini menjadi besar ketika dihubungkan dengan isu SARA. Dan dengan mudahnya
bangsa kita tersulut oleh amarah yang menyebabkan perselisihan menjadi lebih
bringas. Budaya pluralisme yang masih menjadi landasan ideologi bangsa
sepertinya sudah mulai luntur dan lekang. Seringnya terjadi konflik horizontal
jika ditarik benang lurusnya sebenarnya didasari pada permasalahan fundamental
yaitu krisis moral. Dan jika diturunkan lagi permasalahan ini dipicu karena
adanya pesimistis atas keadaan hidup, sehingga ini menjadi pemantik untuk bisa
lebih mudah bagi oknum – oknum tertentu untuk memanajemen konflik sehingga terjadilah
pertikaian yang tidak sedikit memakan korban. Oknum – oknum yang mencoba
mencari keuntungan dengan adanya konflik horizontal menciptakan suasana
konspirasi yang secara politis sebenarnya cukup berbahaya dan akan menimbulkan
kondisi saling curiga (Bubandt, 2000)2.
Oleh karena itu permasalahan krisis moral yang
membelenggu masyarakat saat ini harus dituntaskan karena akan berpengaruh
terhadap keutuhciptaan 4 pilar bangsa yang menjadi tonggak startegis kekuatan
bangsa Indonesia.
Lalu permasalahan kedua yang sarat terjadi di
masyarakat ialah rendahnya mutu sumber
daya manusia
. Selama ini pemerintah kurang bijak untuk menjawab
permasalahan ini. Acap kali pemerintah mengeluarkan kebijakan yang kurang
mencerdaskan dan tidak berorientasi pada peningkatan mutu SDM, seperti Bantuan Langsung
Tunai (BLT), Raskin, Subsidi, dan Pengadaan Pupuk Murah. Seolah – olah bangsa
kita bukan manusia yang tidak mempunyai pikiran untuk menghidupi dirinya
sendiri, sehingga timbul pertanyaan apakah memang pemerintah ingin mencetak
masyarakat menjadi masyarakat pengemis dan peminta – minta atau pemerintah
memang kurang arif dalam hal ini untuk menentukan kebijakan yang tepat dalam rangka
membantu dan memajukan masyarakat?
Barangkali jika kita berkaca dari kebijakan
pemerintah kepada masyarakat menurut hemat saya amatlah mubajir dan sia – sia
karena pemerintah tidak membantu masyarakat yang dampaknya untuk skala panjang
namun hanya untuk sementara waktu saja. Jika kita analisis, seharusnya
masyarakat tidak perlu diberi BLT, tetapi masyarakat seharusnya diberi lapangan
pekerjaan agar bisa menghidupi diri ataupun keluarganya bukan member mereka
uang ‘receh’. Lalu setelah uang itu habis, terus mau minta duit lagi? Kemudian
petani diberi pupuk murah, ini juga cukup rumit. Seharusnya pemerintah
memberikan penyuluhan ataupun workshop kepada para petani bagaimana bisa
membuat pupuk yang baik dengan menggunakan dan mengolah limbah – limbah organik
yang sebenarnya bisa diperoleh dengan mudah menjadi pupuk organik, sehingga
tidak perlu lagi pemerintah harus berletih-ria untuk memberi pupuk murah kepada
petani, karena ke depannya dengan memberikan pecerdasan yang optimal, mereka
sudah bisa membuat pupuk yang mungkin lebih baik dan tidak harus meminta –
minta terus.
Dari inventarisir permasalahan diatas, kita bisa
melihat bahwa permasalahan ini menjadi permasalahan mendasar masyarakat saat
ini. Lalu kemudian mahasiswa sebagai agen perubahan seharusnya resah dan gerah
melihat potret seperti ini. Mahasiswa seharusnya bisa berpartisipasi dalam
penanganan permasalahan masyarakat yang terjadi hari ini.
Sebenarnya tidak ada alasan bagi mahasiswa menolak
atau tidak mengindahkan partisipasi untuk memajukan masyarakat. Karena
mahasiswa adalah unsur utama dari Perguruan Tinggi dan perguruan tinggi
memiliki Tri Dharma yang sangat erat hubungannya dengan masyarakat salah
satunya Pengabdian Masyarakat. Maka dari itu tidak ada alasan untuk apatis
terhadap permasalahan masyarakat yang terjadi saat ini.
Pada prosesnya mahasiswa adalah posisi paling
strategis untuk bisa diterima di masyarakat. Selain memiliki semangat dan
kreatifitas yang tinggi, mahasiswa juga masih dinilai murni (pure) dari kepentingan – kepentingan
baik politis ataupun lainnya. Sehingga tinggal bagaimana mahasiswa mau terjun
untuk berperan dalam rangka memajukan masyarakat.
Hampir setiap perguruan tinggi saat ini memiliki
yang namanya program KKN (Kuliah Kerja Nyata). Program ini adalah mata kuliah
wajib yang tidak seperti mata kuliah lainnya, berada di dalam ruangan kelas.
Substansinya adalah mahasiswa terjun langsung ke tengah – tengah masyarakat
khususnya yang ada di daerah – daerah untuk mengaplikasikan ilmu perkuliahan
dan dengan ilmu yang dimiliki diharapkan bisa membantu proses pengembangan
daerah yang akan menjadi tempat/daerah praktek mahasiswa. Permasalahannya
adalah, sampai sekarang program ini masih belum bisa berjalan dengan efektif.
Ini berdasarkan indikator bahwa ketika mahasiswa selesai melaksanakan program
ini, tidak ada dampak positif yang bisa hadir di masyarakat.
Ada faktor mengapa hal ini bisa terjadi yang pertama
adalah waktu. Waktu yang diberikan oleh pihak perguruan tinggi masih sangat
singkat. Hampir setiap universitas memberikan waktu satu sampai dua bulan saja
sehingga mahasiswa tidak bisa berbuat banyak dalam waktu yang sesingkat itu. Faktor
yang kedua adalah manajemen yang kurang efektif. Seharusnya jika Perguruan Tinggi
memang memandang program KKN adalah program yang akan meningkatkan kemajuan
masyarakat, maka harusnya ada sebuah formulasi untuk mengontrol dan
mengevaluasi hasil –hasil setiap kali diadakannya program KKN ini, sehingga
ketika KKN selanjutnya yang akan diadakan oleh mahasiswa semester depan, bisa
lebih efektif dan hal – hal yang masih perlu diteruskan bisa di-followup. Maka dari itu, perlu adanya
manajemen yang baik untuk memajukan masyarakat khususnya yang ada di daerah.
Sehingga jelaslah bahwa Perguruan Tinggi memang betul – betul menjunjung Tri Dharma
sebagai dasar fungsi Perguruan Tinggi. Faktor yang ketiga adalah kurangnya pengenalan
karakteristik budaya suatu daerah. Pembekalan tentang pengenalan karakteristik
kebudayaan suatu daerah yang dijadikan tempat KKN seringkali masih kurang gamblang.
Pembekalan yang diberikan kepada mahasiswa seharusnya jelas dan terperinci agar
bisa membantu mahasiswa untuk lebih cepat menyatu di tengah – tengah
masyarakat. Kemajemukan budaya di Negara kita menuntut agar kita bisa mengenal
budaya daerah yang akan dituju karena dalam masyarakat yang majemuk dapat
menjadi sulit untuk memahami norma – norma yang berlaku di daerah tersebut yang
sudah menjadi dasar kehiduapan masyarakat karena biasanya berbeda dengan yang
sering kita pahami dalam kehidupan sehari – hari3.
Oleh karena itu, program KKN merupakan salah satu
media yang efektif untuk menjadikan mahasiswa sebagai komponen startegis untuk
memajukan masyarakat khususnya yang ada di daerah – daerah.
Selanjutnya, hampir semua Perguruan Tinggi di
Indonesia memiliki organisasi – organisasi kampus. Prestasi organisasi kampus
merupakan salah satu indikator akreditas suatu Perguruan Tinggi. Untuk itu perguruan
tinggi seharusnya dapat mendukung aktifitas dan kreatifitas organisasi –
organisasi kampus.
Pada struktur organisasi kampus, pihak Perguruan Tinggi
memiliki wewenang penuh atas apa yang terjadi dalam organisasi kampus.
Relevansinya terhadap memajukan masyarakat adalah Perguruan Tinggi bisa
memberikan saran kepada organisasi kampus untuk terjun ke masyarakat,
mengadakan pelatihan – pelatihan ataupun penyuluhan sesuai dengan studinya. Contohnya
adalah, Perguruan Tinggi bisa menunjuk BEM di setiap universitas untuk
mengadakan penyuluhan atau workshop yang melibatkan mahasiswa. Jika ingin
memberikan penyuluhan tetang bidang pertanian maka bisa mengorganisir mahasiswa
yang berasal dari Fakultas Pertanian atau tentang penyuluhan dan workshop HAM,
bisa melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum. Tetapi semuanya ini bisa berjalan
efektif dan optimal kalau saja pihak Perguruan Tinggi juga bisa mendukung penuh
program ini sehingga bisa menjawab permasalahan mendasar tadi, yaitu rendahnya
mutu SDM masyarakat.
Menuntut peranan mahasiswa untuk memajukan
masyarakat tanpa dukungan baik dari Perguruan Tinggi, Media dan Institusi lain
dirasa cukup rumit untuk digalakkan ditengah derasnya arus globalisasi dan
lingkaran hedonisme-pragmatis dewasa ini. Apalagi saat ini mahasiswa juga
berdiri pada dua sisi, berpacu dengan SKS – SKS atau mengasa sensitivitas atas
realita yang terjadi di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, mahasiswa sangat membutuhkan
dukungan untuk berperan lebih banyak lagi untuk memajukan masyarakat.
*Penulis
adalah mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Lampung dan Sekretaris Cabang
GMKI Bandarlampung.
 
1lihat
Beilharz, Peter. 2005. Teori – teori
Sosial: Observasi Kritis terhadap Para Filosof terkemuka
(terjemahan).
Yogyakarta: Pustaka Belajar. Hal. 193
2lihat
Abdullah, Taufik. 2006.Ilmu Sosial dan
Tantangan Zaman.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Hal 251
3
lihat Haviland, William A., 1999. Antropologi Ed. 4 (terjemahan). Jakarta:
Erlangga. Hal. 336

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s