Akankah Harmoni Indonesia Raya berkumandang di London?

Perhelatan kompetisi olahraga paling akbar se-jagad raya tahun ini akan diselengarakan di London, Inggris dan dimulai dari tanggal 27 Juli hingga 12 Agustus 2012. Indonesia mengrimkan 27 atlet terbaiknya untuk mengikut 7 cabang perlombaan. Sejak olimpiade di Barcelona, Spanyol tahun 1992 hingga olimpiade 2008 di Beijing, China, Indonesia selalu memperoleh medali emas. Penghargaan tertinggi ini biasanya diperoleh dari tangkai lomba bulu tangkis. Namun, di tengah hiruk pikuk kondisi bangsa hari ini dan melihat regenerasi atlet bulutangkis yang menurun grafiknya, akankah tradisi emas bisa kembali diraih oleh para atlet kita pada ajang empat tahunan yang akan diselenggarakan di London dan bisa kembali mendengar gema Indonesia Raya?

Ada fenomena menarik yang bisa kita lihat tentang respon dan psikis ketika mendengar lagu kebangsaan Negara. Setidaknya ada perbedaan ketika mendengar lagu Indonesia raya di serebrasi ajang-ajang internasional dengan di momentum yang ada di dalam negeri seperti upacara bendera atau upacara organisasi lainnya. Misalnya saat mendengar lagu Indonesia Raya pada serebrasi penyematan medali di olimpiade Beijing tahun 2008 kemarin, sontak bulu kuduk kita berdiri. Berbeda dengan ketika kita mendengar lagu Indonesia ketika Upacara Bendera atau upacara organisasi. Padahal tidak ada perubahan pada harmoninya atau alunan nada-nadanya. Lagu yang kita dengar pada Olimpiade di Beijing sama saja dengan lagu Indonesia Raya yang kita dengar ketika upacara. Tetapi bisa kita lihat ada perbedaan respon jika membandingkan situasi pada perbedaan konteks kedua momentum tersebut.

 

Melihat perjalanan dan historisnya, lagu Indonesia Raya merupakan salah satu saksi kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara yang diperkenalkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Dimana ketika itu dikumandangkan pada pertemmuan Kongres Pemuda II. Namun, dewasa ini khidmat dan kekhusyukkan masayarakat  ketika mendengar lagu kebangsaan sudah mulai luntur. Pada Upacara bendera yang dilangsungkan di sekolah-sekolah atau instansi-instansi pemerintahan contohnya, tidak sedikit orang yang ‘cuek’ dan tidak mengilhami lagu ini. Masih ada saja orang yang menganggap lagu Indonesia Raya seperti lagu-lagu pop atau selewat saja.

Persoalan yang kecil memang, namun berdampak akut jika dibiarkan. Kekurang pedulian terhadap simbol-simbol kenegaraan yang bersifat filosofis dan historikal oleh masyarakat sekarang ini sudah semakin menurun. Keapatisan merupakan faktor utama yang membuat lagu Indonesia Raya seperti lagu yang biasa. Tidak ada lagi penghayatan yang khidmat. Dan jika penyakit ini tidak segera disembuhkan, bukan tidak mungkin identitas lagu kebangsaan akan semakin asing kita dengar. Dan ketika dikumandangkan dalam skala internasional, respon kita menjadi berbeda dengan ketika kita mendengar lagu terebut di Negara sendiri.

 

Dampak yang lebih akut lagi adalah, ketika lirik lagu Indonesia Raya mulai dilupakan. Musabab ini dapat terjadi jika masyarakat tidak lagi menganggap lagu Indonesia Raya adalah sakral. Padahal, Indonesia Raya merupakan salah satu Identitas Negara yang perlu dijunjung dan dihargai.

 

Pada Olimpiade kali ini, lebih 200 juta bangsa Indonesia menanti lagu Indonesia Raya kembali di dikumandangkan. Dan semoga lagu kebangsaan ini bisa bergema bukan saja di London tetapi di sanubari kita masing-masing. Dan untuk para atlet yang membawa panji Merah Putih, semoga bisa menampilkan yang terbaik. Karena prestasi mereka adalah bilur-bilur kebanggan di tengah keprihatinan dan kekacauan dinamika yang terjadi di Negara kita sekarang.

 

Selamat Berjuang buat para atlet, kami rindu lagu Indonesia Raya yang khidmat dan khusyuk bergema di atap-atap dunia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s