67 Tahun Indonesia: Pluralisme Masikah Penting?

“Sudah terlalu banyak resolusi – resolusi yang didiskusikan baik di tembok beton pemerintahan sampai pada semeja warung kopi, mengoret-ngoret untuk penuntasan permasalahan Negara. Bahkan tidak sedikit UU yang dirancang perwakilan rakyat terlepas pro – kontranya, namun semuanya hanya kamuflase dan sarat dengan kepentingan dan masih sangat implisit dan parsial.”

Sudah meretas penjajahan, tetapi tetap saja Indonesia masih terkungkung. Sudah 67 tahun Proklamasi Negara R.I. dideklarasikan, namun masih saja anyir kebebasan belum terasa di indera.

 

Berdasarkan sejarahnya dimulai dari zaman Singosari yang menamakan daratan ini sebagai Dipantara (Nusantara diantara dua benua) atau era kemasyuran Majapahit menamakan gugus kepulauan kita dengan nama Nusantara, kemudian lahirlah sebuah Negara nan-elok dengan nama Indonesia, yang pertama sekali dipopulerkan oleh Adolf Bastian kebangsaan Jerman.

 

Sebuah dinamika yang panjang hingga Indonesia bisa berdiri sendiri sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat walaupun secara ‘de joure’ saja. Dewasa ini kita tidak perlu lagi mempertahankan kenaifan bahwa Indonesia nyatanya belum merdeka secara hakiki. Dan ini harus diakui. Bukan provokasi atau menebar bara dalam tubuh, pamflet realitas buram dan keparadoksan adalah bukti bahwa Indonesia masih ‘terjajah’. Realitas, kondisi bangsa dan Negara yang masih kacau balau. Kesejahteraan yang didengung-dengungkan sejak zaman hong sampai sekarang hanyalah bualan. Padahal, di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) secara eksplisit dituliskan bahwa merdeka adalah bebas; berdiri sendiri. Nyatanya, kita masih canggung untuk merangkak apalagi mau berdiri sendiri. Ini realitanya. Paradoks, Negara yang menurut pengakuan dunia bahkan testimoni dari segenap penjuru dan segala makhluk bahwa Indonesia adalah Negara yang ‘kaya’, namun kok masih ada yang menderita, kelaparan, dan kehausan. Bahkan mau makan besok saja, botak kepala ini memikirkannya. Aneh bin Paradoks ini namanya. Bahkan, bangsa kita juga ber-paradoks dengan KBBI-nya, kamus yang dibuat oleh bangsa Indonesia sendiri.

“Inikah yang disebut merdeka?”

————————————————————

 

Indonesia bukan dibangun sehari. Ia hadir dengan karakter society dynamic, melalui dinamika interaksi di antara masyrakat yang menghuni daratan; kita sebut dengan Indonesia, dan menjadi sebuah kesepakatan utuh berdasarkan perbedaan yang ada dalam entitas dialektika sosial. Indonesia adalah ragam dan macam. Sudah sejak lama hingga sekarang, bangsa ini memiliki warna yang lebih banyak ketimbang Negara-negara lain. Dan segala ragam menjadi satu menciptakan kekuatan utuh dibalut sebuah ideologi yang menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika membandingkan perjalanan Indonesia pasca proklamasi, semakin tua belakangan semakin tinggi jarak antara perbedaan yang ada. Kontraproduktif dengan situasional yang dulu pernah ada.

Afirmasi dalam entitas konstitusi dan ideologi ternyata belumlah kuat untuk memperkecil jarak antara perbedaan. Dan menjadi sketsa buram, bahwa Indonesia masih belum bisa menghargai perbedaan yang ada meskipun telah disatukan dengan kekuatan ideologi dan konstitusi.

 

Sudah 67 tahun kita merdeka, yang terlihat justru semakin tinggi permasalahan yang timbul akibat keberagaman yang ada di Indonesia. Isu Suku, Agama dan Ras (SARA) semakin meruncing. Padahal, dulu pluralisme adalah warna yang menyatukan segala keberagaman warna yang ada. Namun sekarang pluralisme sudah mulai luntur. Kini perbedaan menjadi sangat berjarak, sehingga tidak jarang perbedaan SARA menjadi pemicu konflik di masyarakat. Rasa saling menghormati perbedaan yang pernah menjadi senjata bangsa untuk menciptakan kesatuan sepertinya telah menghilang. Bercermin dari kasus setahun silam saja, isu SARA sangat sering menjadi pemicu konflik di masyarakat, konflik antar suku dan antar agama. Beberapa kasus konflik yang terjadi di tanah air karena isu SARA diantaranya adalah perang suku di Papua, Kalimantan, Sulawesi, lalu kasus penutupan tempat-tempat ibadah, dan yang lebih ‘lucu’, konflik yang belakangan ini terjadi di Raskin, Myanmar, berdampak sampai ke Indonesia, yaitu menyebabkan sekelompok orang/oknum melakukan penutupan beberapa tempat ibadah.

 

Apakah Negara ini terlalu rapuh sehingga mudah disulut amarah hanya dengan sebuah perbedaan? Keadaan terbalik jika membandingkannya dengan puluhan atau ratusan tahun silam, tanpa ada jarak di dalam perbedaan.

 

Inilah salah satu penyebab mengapa bangsa ini sampai sekarang masih terkungkung sebagai bangsa ‘terjajah’ dan rapuh sebagai Negara Kesatuan. Dan kalau Negara sudah tidak satu lagi, terlalu mudah untuk diruntuhkan. Dan kalau sudah diruntuhkan, layaklah Indonesia disebut Negara terjajah.

 

Cita-cita Gajamada, Bung Karno ataupun segenap Pahlawan lainnya yang pernah menetes luka adalah mewujudkan Indonesia satu untuk mencapai Negara yang berdaulat, adil dan sejahterah diantara perbedaan yang ada. Namun di usia 67 tahun pengakuan Indonesia sebagai Negara merdeka justru semakin ter-mozaik.

 

Oleh karena itu, masih dalam rangka momentum HUT R.I. yang ke-67, marilah merefleksikan HUT R.I. dengan memaknai arti sebuah perbedaan yang dibalut dengan rasa Pluralisme. Dengan menghargai perbedaan tentunya Indonesia bisa mewujudkan Negara Kesatuan yang hakiki dan tidak bias. Pluralisme adalah pondasi untuk menciptakan Negara yang merdeka. Karena jika semua masyarakat telah satu dan tidak terpecah, maka terlalu sulit para ‘penjajah’ itu kembali menjajah Negara kita sehingga akan terwujud Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdaulat.

 

Dengan menciptakan kepaduan masyarakat (civil cohesiveness) dapat menghasilkan kohesivitas dan semangat kebersamaan yang tinggi di antara masyarakat, sehingga dengan kohesivitas yang tinggi akan memiliki harapan yang tinggi dan upaya yang lebih untuk mengatasi hambatan-hambatan yang ada.

 

UOUS

 

GMKI cabang Bandarlampung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s