Membongkar Karakter Bangsa dengan Pendidikan

Di zaman globalisasi ini, Indonesia seperti gudang tua lengang yang menyimpan segudang harta melimpah. Sudah 67 tahun bangsa kita merdeka, namun tidak ada perubahan yang lebih baik. sebaliknya, semakin tua Negara kita justru semakin terpuruk. Kesejahteraan yang termaklumatkan dalam Pancasila sebagai ideologi bangsa masih jauh panggang dari bara. Yang ada adalah kondisi riil masyarakat yang semakin terpuruk oleh derasnya arus globalisasi. Kapitalisme melahirkan kaum feodal dan westernisasi. Adanya slogan kaum bourjuis dan proletar yang melahirkan jarak pada tatanan masyarakat. Dan jika dibiarkan secara kontiniu, maka akan berdampak pada degradasi kebudayaan bangsa, yaitu: menurunnya rasa saling menghargai perbedaan, rapuhnya kesatuan dan persatuan, dan pudarnya rasa cinta tanah air. Dampak negatif terhadap kebudayaan ini akan mempengaruhi karakter bangsa.

Setidaknya fenomena ini ditunjukkan dari beberapa gejala yang ada di masayrakat. Semakin tingginya individualisme dan apatisme merupakan salah satu indikator bahwa karakter bangsa sudah mulai bergeser. Kepedulian antar sesama semakin rendah. Dan pada puncaknya kesatuan bangsa pun semakin distorsif. Sampai pada saatnya, kemerdekaan bangsa Indonesia pun mulai dipertanyakan. Karena sejatinya bangsa yang merdeka adalah bangsa yang berdiri di kaki sendiri. Namun saat ini bangsa kita sedang pincang. Rasa persatuan dan kesatuan yang semakin menurun merupakan salah satu penyebabnya.

Pada dasarnya globalisasi tidak bisa dihindari. Seiring perkembangan zaman, seleksi alam semakin tinggi. Persaingan pada tataran global telah mencapai grafik yang semakin meningkat signifikan. Dan jika Indonesia tidak siap, maka kita akan menjadi Negara pecundang.

Kesalahan mendasar dari ketidakmampuan ktia bersaing terletak pada karakter bangsa yang masih ‘primitif’. Kemampuan untuk mengembangkan potensi masih rendah. Potensi Negara yang tinggi tidak bisa diimbangi dengan karakter bangsa yang baik. sehingga Negara kita tidak lebih baik dari istana tua yang telah berlumut.

Karakter negatif yang timbul di masyarakat dewasa ini adalah:

Moralitas yang rendah

jika menonton televisi atau membaca berita harian, kita akan selalu dijajalin dengan peristiwa-peristiwa yang bersifat in-moral, mulai dari tindak kriminal, pelanggaran kasus Ham, tindak pidana korupsi, dan sebagainya yang pada dasarnya telah berlangsung cukup lama dan menjadi permasalahan klise. Dan sampai hari ini permasalahan tersebut semakin menggurita.

Faktor yang menyebabakan terjadinya penurunan moralitas sebagai karakter bangsa disebabakan antara lain, kesejahteraan masyarakat yang tidak kunjung membaik dan adanya pola pikir yang masih konvensional.

Jiwa kepemimpinan nasionalis minim

Pasca orde lama, Negara kita telah kehilangan sosok pemimpin nasionalis. Pemimpin nasionalis seyogianya mementing kebutuhan Negara ketimbang kebutuhan pribadi. Dan karakter ini semakin lama mulai menghilang. Ditambah lagi dalam proses regenerasi, tidak dilakukan secara optimal, sehingga bangsa kita tidak memiliki karakter jiwa kepemimpinan nasionalis. Dan ini merupakan salah satu penyebab Negara ini semakin terpuruk.

Tidak adanya pengembangan Historikal Negara yang adaptif

Apresiasi terhadap sejarah bangsa tidak dibarengi dengan pengembangan potensi Negara. Penghargaan terhadap sejarah hanya sampai tataran simbolis dan formalitas. Seperti contoh, masyarakat diwajibkan mengikuti upacara bendera ketika HUT RI, atau memasang bingkai Pancasila di gedung-gedung pemerintahan. Padahal, hal seperti ini kurang substansial. Apresiasi terhdap sejarah perlu dilakukan dengan pengembagan potensi, seperti meningkatkan eksistensi kebudayaan dimata global tanpa menghilangkan nilai kebudayaan bangsa, menolak segala bentuk westernisasi yang merusak kebudayaan bangsa, mewujudkan dan meneruskan cita-cita para pahlawan yang dimanfestasikan dalam bentuk ideologi dan lainnya.

Pendidikan sebagai resolusi

Dengan kebijakan perekonomian ditambah sistem demokrasi yang ‘kebablasan’ mau tidak mau bangsa kita telah masuk ke dalam permainan lingkar global. Situasi seperti ini mau tidak mau mempengaruhi karakter bangsa kita. Jika kita tidal filterik, maka gejalan globalisasi bisa menimbulkan penjajahan karakter bangsa.

Oleh karena itu bangsa kita perlu mempesiapkan diri dengan karakter bangsa yang relevan. Untuk menciptakan karakter bangsa yang relevan, pendidikan sebagai wadah reproduksi kompetensi bangsa adalah salah satu resolusi yang dianggap paling strategis. Pengoptimalan pendidikan berdasarkan garis perjuangan dan ideologi bangsa akan menghasilkan masyarakat yang berkarakter pemenang.

Pendidikan dalam hal ini bukanlah pendidikan dalam arti sempit (pendidikan formal). Pendidikan yang dimaksud disini adalah suatu proses berubah lebih baik untuk menciptakan kedewasaan. Sehingga dengan pendidikan akan menciptakan karakter bangsa yang lebih baik dan lebih dewasa.

UOUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s