STRATEGI PENGAJARAN

 

sumber gambar: http://bara-zenith.blogspot.com

Ditengah hegemoni pilkada Jakarta, mulai dari kedai kopi sampai gedung-gedung tinggi, tidak lepas dari dialektika tentang Pilkada Jakarta. Namun pada kesempatan kali ini, tulisan saya diluar konteks itu.

Dimulai dari kata ‘penyesalan’ aku mengawali ini.

Kalau dikatakan menyesal barangkali ia. Tetapi menyesal berkepanjangan akan sama seperti menggenggam angin. Setidaknya hal ini yang menghampiri sisi humanisku belakangan ini. Sejak mengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar yang cukup ternama di kota ini, mau tidak mau aku harus belajar keras untuk menunjukkan kompetensi dan kualitasku setidaknya sebagai mahasiswa biologi yang mempelajari ilmu tersebut. Penyesalan tidak akan muncul andai saja ketika semester-semester dulu aku tidak ‘bercanda’ dengan perkuliahanku karena seandainya dulu lebih fokus barangkali aku cukup siap untuk menjadi pengajar di lembaga ini tanpa perlu bergadang setiap hari untuk mempersiapkan materi yang akan disampaikan pada adik-adik.

Di awal penerimaan pengajar, aku pun sempat bingung ketika aku dipanggil untuk mengikuti beberapa tes calon pengajar. Aku mengikuti satu persatu tes yang diberikan mulai dari tes administrasi, tes tertulis, microteaching sampai wawancara. Dan akhirnya aku diterima sebagai salah satu pengajar yang menghantarkanku pada sebuah pengalaman dan tantangan yang baru.

Barangkali ini sekedar intermeso pengawal sasaran yang ingin disampaikan.

Sebenarnya substansi yang ingin kusampaikan pada kesempatan kali ini adalah bahwa seorang pengajar tidak cukup hanya pada pemahaman suatu materi. Agar suatu materi bisa optimal dan bermanfaat untuk peserta didik, paling tidak harus melewati beberapa tahapan. Tahapan inilah yang perlu dilakukan pengajar untuk mengoptimalkan materi yang hendak disampaikan.

Pertama, pengajar mesti mengetahui materi yang akan disampaikannya. Ini adalah hal yang paling mendasar. Bagaimana mungkin seseorang ingin menyampaikan sesuatu jika yang hendak disampaikannya pun dia tidak tahu? Materi yang disampaikan seharusnya diketahui secara komprehensif agar apa yang akan disampaikan tidak parsial atau bias.

Kedua, selain mengetahui, pengajar juga mesti memahami penuh materi yang disampaikan. Pemahaman ini lebih pada kajian analitik yang lebih detail. Pemanahan materi yang baik akan memudahkan pengajar mengeksplore materi dengan baik.

Ketiga, penguasaan. Penguasaan materi yang dimaksud di sini adalah pengajar bisa memberikan contoh-contoh aplikatif atau analogi yang lebih sederhana. Materi yang cenderung rumit bisa dipermudah dengan menguasai materi. Penguasaan materi juga menyangkut tentang pengalaman empiric atau percobaan/penelitian.

Keempat, pentransferan. Walaupun pengajar telah menguasai materi dengan baik tetapi jika komunikasinya berantakan, maka transfer ilmu akan terhambat. Oleh karena itu pengajar juga perlu memiliki keterampilan pentrasferan ilmu yang baik dengan mempertimbangkan komunikasi yang efektif dan sesuai dengan sasaran.

Kelima, pengevaluasian. Pengajar perlu melakukan pengevaluasian apa yang telah disampaikannya kepada peserta didik. Pengevaluasian bisa dalam bentuk kuis ataupun test baik tertulis ataupun lisa yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan. Dari kegiatan ini, pengajar bisa mendapat gambaran tentang kompetensi diri pengajar. Hasil evaluasi yang baik biasanya akan sejalan dengan optimalisasi pengajat menyampaikan materi.

Kelima, refleksi. Refleksi adalah tahapan terakhir sekaligus tahapan yang sangat penting tanpa mengesampingkan tahapan lainnya. Pada tahapan inilah seorang pengajar bisa berkaca sehingga untuk ke depan, akan melakukan penyampaian materi dengan lebih baik.

Kelima tahapan ini pada dasarnya saling bersinergis. Untuk melakukan tahapan satu, pengajar mesti melakukan tahapan sebelumnya. Sehingga untuk mengoptimalkan penyampaian materi, agar memperhatinkan kelima tahapan ini.

Rasa-rasanya memang rumit. Tetapi disinilah tantangannya. Seorang pengajar yang professional mestinya sadar bahwa pencapaian yang baik adalah ketika peserta didik mengngat dan memahami betul apa yang disampaikan pengajar. Dan jika ada case, dimana baru kemarin seorang pengajar menyampaikan materi kemudian haris ini sudah lupa atau tidak ingat, barangkali ada yang salah dengan strategi penyampaian materinya sehingga dapat diaktakan bahwa pengajar tersebut gagal dan sia-sia telah memberikan materi sebelumnya.

Maka dari itu, saya mengajak kita semua (karena jiwa pengajar gak mesti seorang guru), untuk memperhatikan tahapan ini dalam rangka penyampaian materi atau sesuatu apapun yang berkaitan dengan wawasan atau ilmu penetahuan yang optimal apalagi yang kita sampaiakan adalah sesuatu yang penting buat masa depan pendengarnya.

UOUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s