SPEKTRUM PARADOKS: POTRET DILEMATIK

 

Kalau aku berangkat ngajar di salah satu lembaga Bimbel di Kota ini, selalu saja aku melihat spektrum paradoks, sketsa polaritas yang menurut batinku teramat memuakkan. Melewati jalan Zainal Pagar alam setidaknya ada dua kali lampu lalu lintas dari dua pertigaan yang menghambat perjalanan roda-roda motor ini hingga sampai pada suatu gedung yang hiruk-pikuknya beradu dengan suasana udara AC.

Kalau di tiang tiga lampu bocah-bocah menyandang koran-koran yang dijajalkan kepada pengguna kendaraan khususnya yang sedang ngantri di lampu merah sedang bocah-bocah di gedung ini, mereka menyandang buku-buku sekolah.

Kalau di pertigaan itu, bocah-bocah menggenggam mangkuk penampung air mata mereka yang terbendung di kelenjar matanya mengharapkan iba para pengguna jalan sedang bocah-bocah digedung ini menggenggam HP sambil sesekali tersenyum simpul atau terbahak-bahak penuh suka dan canda.

Kenapa diantara bocah-bocah ini dipisahkan oleh jalan dan lampu lalu lintas? Tidakkah mereka bisa bersama?

Tak ada yang ingin terlahir sebagai bocah peyandang koran atau penggenggam mangkuk. Kalau sebelum lahir, bocah di lampu lalu lintas itu ditanya ingin lahir atau tidak, barangkali mereka sepakat untuk katakan TIDAK.

Semoga kesedehanaan impian bocah-bocah ini membuat mereka kelak akan menjadi besar.

UOUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s