Kok ‘Telat’ ?

Yuk hitung-hitungan kasus
tentan
g  (sering) terlambat……..

      Berapa siswa yang sering terambat
masuk ke sekolah, sehingga harus dihukum di depan kelas?
         Berapa mahasiswa yang sering telat
sehingga tidak diperbolehkan mengikuti perkuliahan?
         Berapa banyak buruh dan karyawan
yang harus dipotong gajinya karena telat masuk kerja?
         Berapa banyak siswa yang ngeluh
dan ‘terlantar’ lantaran gurunya masuk terlambat ke ruang kelas?
         Berapa banya mahasiswa ‘galau’
karena dosen telat untuk membimbing mahasiswanya?
         Berapa anggota dewan datang telat
untuk mengikuti sidang-sidang dalam
rangka mewujudnyatakan aspirasi dan kepentingan rakyat (bukan semata-mata rakyat ‘kapitalis’)?
         Berapa pengusaha yang mesti gulung-tikar karena
sering ‘telat’?
         Berapa banyak pejabat negara yang
sering terlambat ngantor ketika sidak dilakukan?
         Berapa kali diri kita ‘telat’
(telat makan, minum, sampai telat buang hajat) sehingga harus mengalami
gangguan penyakit?
Semua keterlambatan
berhubungan dengan waktu.
Bumi tidak pernah telat
berotasi dan
berevolusi. Bumi selalu konsisten dan tabah menanggung nasib sebagai salah satu ciptaan yang
berputar-keliling di galaksi sampai berjuta-juta tahun, bahkan bermilayaran
tahun. Lantas mengapa manusia sering telat dalam hidupnya?
Sela
Dalam konteks ini,terlalu banyak alasan dari sebuah keterlambatan.
Padahal kita sudah banyak mencerna filosofih tentang waktu, mulia dari waktu itu tidak pernah kembali, waktu itu
jahat, waktu itu terus berjalan, waktu itu ibarat pedang, waktu itu tegas dan
cuek,
dan masih banyak lagi. Namun masih saja, ‘telat’ adalah penyakit
klasik yang sampai saat ini menjadi kesenjangan yang belum terselesaikan.
What the hell’s that?

Kita harus berterima kasih kepada orang yang menemukan jam pertama
sekali, yang sampai saat ini masih belum diketahui (diduga yang pertama sekali
menemukan jam adalah bangsa Mesir- jam bandul). Karena dengan adanya jam, kita
bisa lebih memanfaatkan dan menghargai waktu.
Setelah diamat-telisiki, ternyata hampir setiap orang memiliki jam
(khususnya orang dewasa), namun tidak banyak orang yang jamnya menunjukkan
waktu yang sama dengan orang lainnya. Setidaknya pasti memiliki perbedaan, mulai
dari berbeda 1 detik, 5 detik, 1 menit, 5 menit atau bahkan satu jam dalam satu
wilayah waktu yang sama. Artinya kesesuaian jam setiap orang sering berbeda.
Misalnya saja waktu di jam saya akan berbeda dengan waktu di jam Anda. Padahal mungkin saja kita berada dalam kawasan
Waktu Indonesia barat (WIB) Sehingga menjadi wajar
sebenarnya orang memiliki versi ketepatan waktu yang berbeda-beda.
Barangkali selain kekurangkosistenan dan komitmen kita terhadap waktu,
ketidaksesuaian waktu yang ditunjukkan oleh masing-masing jam kita ternyata
bisa menjadi salah satu penyebab mengapa untuk ontime menjadi pekerjaan yang sulit dilakukan. Bahkan sepertinya
menjadi barang yang langka.
Saya punya pengalaman sewaktu duduk di semester 6 perkuliahan, ketika
itu saya harus berdebat lama dengan dosen lantaran menurutnya, saya sudah melewati
batas dispensasi keterlambatan kuliah yaitu 15 menit agar bisa mengikuti
perkuliahannya. Padahal menurut waktu yang ditunjukkan oleh jam saya, bahwa
saya masih belum melewati batas toleransi 15 menit seperti yang disepakati pada kontrak kuliah. Sudah hukumnya
memang, ketika terjadi perdebatan mahasiswa-dosen, tetap saja mahasiswa akan
selalu ‘mengalah’.
Dari pengalaman yang tidak mengenakkan tersebut, jarum-jarum jam pun saya
percepat. Setidaknya tidak berbeda jauh dengan versi waktu dosen tersebut.
Permasalahan yang sederhana ini seharusnya perlu disikapi dengan
serius. Walaupun negara kita sudah mengatur perbedaan waktu, hanya saja di
tataran teknis, banyak sekali permasalahan yang timbul hanya karena perbedaan
versi waktu walalupun perbedaannya tidak terlalu jauh.
Maka dari itu, pemerintah perlu menyuarakan atau menginstruksikan
kepada masyarakat untuk menetapkan waktu yang pasti di ketiga daerah waktu yang
ada di Indonesia. Dengan begitu setiap masyarakat tidak akan memiliki
versi-versi berbeda-beda. Jadinya tidak ada lagi perdebatan versi ketepatan
waktu.
Waktu mungkin cuek dan barangkali tidak ada kompromi. Tetapi waktulah
yang selalu memberikan kita harapan. Selagi bumi masih berputar-keliling, kita
masih punya harapan. Tanpa
mengurangi hormat kepada saudara-saudara sekalian, mulai sekarang dan ke depan, mari kita menghargai waktu dengan selalu menepati janji dengan
tepat waktu. Salam hangat!
UOUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s